Aku ingin menganalogikan kehidupan sebagai sebuah buku cerita. Satu per satu lembaran buram kosong  mulai terisi. Buku ini telah dituliskan satu perempat jutaan rasa yang mungkin dirasakan oleh semua orang, hanya saja plotnya berbeda. Tentu saja dalam kehidupan ada satu hal yang pasti. Tak ada yang bisa mengubah alur cerita yang tak sengaja tertulis, cerita itu akan terus tertulis tanpa bisa mengubah bagian yang salah. Kehidupan tak punya editor, tulisan yang salah akan terus membekas tanpa bisa dihilangkan. Kau akan terus menulis terus ke depan hingga lembaranmu berakhir.

Terlalu banyak karakter yang telah dan akan ditemui. Karakter utama yang membuat dirimu terbentuk. Akan jadi seperti apa dirimu, itu tergantung dia. Kau tak bisa memesan cerita yang kau inginkan ketika kehidupan masih seperti selembar kertas putih polos yang hanya bisa bergantung pada garisan tinta orang lain. Dia akan membentuk premis dan outline ceritamu, baru kita sendiri mengembangkannya menjadi cerita utuh. Kehidupan telah didesain sedemikian rupa baik disadari atau tidak. Ketika itu pula karakter utama ini mencoba membuat pribadi sesuai harapannya. Entah itu baik ataupun buruk.

Lalu akan sangat mudah menemukan karakter pendukung. Bisa teman, sahabat, guru, pasangan, rekan kerja  atau orang yang ada di dekatmu. Mereka kan bermain dengan simbol-simbol untuk menginterpretasikan setiap bab cerita. Biasanya mereka muncul di beberapa sub-bab kehidupanmu. Mereka silih berganti, sebagaimana perkembangan waktumu dalam melanjutkan cerita. Mereka terus menimbulkan kesan meskipun terkadang tanpa efek setelahnya. Adapula karakter figuran, yaitu mereka yang hanya sekali lewat. Dalam buku itu, mereka hanya ditulis dalam satu kalimat tanpa arti. Sekedar lewat tapi bisa memberi arti.

Layaknya sebuah cerita, hidup memiliki tiga babak. Pengenalan – perjalanan – pemberhentian. Ketiganya memiliki cerita dan bagian masing-masing. Bagaimana hidup berawal dari pengenalan jati diri yang dibentuk dalam peristiwa kehidupan. Mulai dari buta huruf hingga mampu menyelesaikan sebuah buku biografi. Tak ada kehidpuan yang sama, meskipun saudara kembar sekalipun. Sisi manusia yang unik, itulah yang membuat mereka bisa bertahan hidup. Manusia tak dilihat dari bagaimana ia mengenal dirinya, bukan pula dari pemberhentian. Itu hanya simbol yang akan mengingatkan pada sebuah perjalanan.

Kini goresan tinta dan aksara yang bercampur tanda baca akan membentuk sebuah kisah yang sempurna. Manusia telah membuat cover, sinopsis, hingga profil mereka sendiri. Pertanyannya, apakah buku yang dituliskan ini telah layak dibaca ?

Semua tergantung pembaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s