Racikan cerita malam ini sungguh

pas. Sepertiga patah hati ditambah

sepertiga kelahiran ditambah sepertiga kematian

ditambah sepertiga kenikmatan yang dihiasi

lukisan putih diatasnya.

 

Tanda tanya berserakan dalam

memori lama dan desain masa depan.

Saat itu pula sirine bahaya menyala dalam potongan

puzzle yang siap ditanya.

 

Lalu sang peracik cerita

mengeluarkan buku catatan putih

berisikan kehidupan. Waktu dilewati

manusia dengan mimpi yang ditempel

di jendela kamar.

 

Uap dari mesin pembuat cerita itu

terbang kemana-mana lalu sirna

terseret udara. Aroamanya bercampur

obrolan santai pengunjung sebelah.

 

Kau berkata

“Seperti kopi, kita terlahir dengan

berbagai jenis biji dalam wadah berbeda.

Hidup ini penuh rasa pahit dan tergantung

bagaimana kamu mengolahnya,”

 

“Kopi paling sempurna adalah kopi terpahit

dimana orang-orang justru menikmatinya. Aku banyak belajar

dari kepahitan hidup.” Aku menambahkan.

 

Kopi tanpa sisa menjadi saksi bisu yang terus mengurung tangisan.

Secangkir kopi yang kau tawarkan begitu manis.

Hingga akalku terlarut di dalamnya.

 

-Dho-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s