Hai awan sang perindu senja. Masih sudikah engkau menunggu sang pendiri. Senja itu membutakanmu. Senja itu hanya datang sesekali, keluar masuk pintu hati.

Lalu kenapa bagiku awan itu syahdu ? Dalam waktu ia menemani. Dalam terang ia melindungi. Dalam gelap ia penyejuk hati.Awan itu berdandan layaknya ke pesta. Aduhai, sungguh indah sang awan. Matahari, bulan, bintang hingga langit bermain dengannya.

Gumpalan perasaan membentuk keharmonisan. Kau sungguh cocok dengan awan.

Aku benci ketika sang awan menjatuhkan air matanya. Awan menangis, manusia berpuitis. Ia menutupi tapi tersakiti. Sungguh lemah sang awan, tak berani terus terang. Selamat mengejar sang senja wahai awan. Bukankah kau tahu sang senja tak muncul saat hujan.  Wajahnya ada saat hatimu cerah. Bukan saat kau menangis ketika menyuburkan yang lain.

“Walau kau sumringah tapi ku tahu kau lelah”

-Dho-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s