Pendaki Berkaki Satu

               Gajah datang tak membawa belalai. Burung datang tak menggunakan sayap. Pada dasarnya mereka menyukai sesuatu yang unik. Akan tetapi, yang unik belum tentu dapat memberikan arti yang berlabuh. Mungkin mereka lelah membawa sebuah tas berlantai tiga. Tapi aku lelah dengan apa yang mereka lihat. Ada yang menertawakan, ada yang bersedih, ada pula yang pergi tanpa perduli. Kesempurnaan hanya mereka nilai dari bentuk fisik yang mereka lihat.

                Tanpa terasa detak jantung ini berdiri tiap kali ku menjejakkan kaki kiriku. Bekas pijakan yang berbeda dari dua belah sisi. Aku berkeringat pekat melihat sebuah tempat yang hanya dapat kunikmati sesaat. Tanpa terasa telah tiga jam ku meninggalkan kaki dimana puncak tertinggi akan kutaklukkan. Puncak dimana mereka suka membawa kertas seakan berdoa kepada alam. Mengagungkan dan mengisyaratkan sebuah keindahan alam untuk orang yang tersayang. Tapi aku berbeda, baik fisik maupun tujuan yang tersuik. Aku hanya mengandalkan kaki dan tongkat yang mencapai sebuah puncak bernama Kerinci.

                Dua jam sepatu menginjakkan bebatuan yang terus meninggi. Aku tak mau melihat ke belakang. Apabila aku melihat kesana aku bisa kalah. Bagaimana mungkin tekad yang kubangun sejak lama diruntuhkan hanya dengan seember keringat yang telah mengalir di bajuku. Jika diperas mungkin keringatku bisa menjadi secangkir kopi yang hitam pekat. Aku akan terus melihat ke atas. Awan dan langit telah memanggil. Tinggal aku yang memberikan jawaban.

                “Kamu tak mau berhenti saja ?” kata seorang wanita yang ada di sebelah diriku.

           ”Mana mungkin kaki dan tongkatku berhenti hanya karena hal ini.” Aku tetap melihat ke atas tanpa melihat matanya. Karena aku tahu ketika aku melihat matanya, diriku akan menjadi lemah. ”Kenapa? Kamu lelah ?” aku balik bertanya.

               ”Mana mungkin lagi aku lelah kalo kamu aja masih kuat.” Dia tersenyum. Inilah yang aku tak suka dari dia. Ia bisa meruntuhkan semangatku. Bukan karena bermuka merah kepadanya, justru sebaliknya. Senyumnya dapat terekat. Bagaikan simpul yang tak mau lepas. Bagaikan sebuah kutub magnet yang berbeda. Meskipun tak mau melihatnya tapi dia akan tetap menarik diriku dengan sebuah hukum yang tak bisa ditentang. Dua untuk menopang. Meskipun hanya memiliki satu, aku tidak pernah takut. Sebab aku memiliki penopang yang lain.

Cuplikan cerpen ini pernah dimuat dalam “Antologi Cerpen Remaja Jambi” pada tahun 2010.

-Dho-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s