Hari Ketiga

     Pagi ini aku merindu. Tatkala purnama hilang berganti dengan sang senja. Saat itu pula diriku dapat berinterkasi dengan saluran hipordemikmu. Takkan kulupa ketika dua orang menemuiku dalam satu ruang tak berpenghuni. Wajahku memerah, melihat sang Ratu bercengkrama bersama sesosok pangeran. Lalu, aku berdiam diri sambil menatap gelas kosong bekas Kopi dan air gula.

    Tiba-tiba pula rindu itu datang lagi. Ketika rambut panjangmu bertahan dalam dua sisi ruang ini. Dua hari, aku tetap menunggu. Terdiam dalam sudut Kedai Kopi sambil menuliskan sajak untukmu. Mungkin kau tak sadar. Meratapi sungguh melelahkan. Warna merah bercampur biru yang kau gunakan sungguh layak malam ini. Apakah mungkin kau memerhatikanku juga ?

     Hari ketiga, rindu itu datang lagi. Melewati proses tampak rembulan dan matahari. Kau masih saja disana. Bedanya hari ini kau sendirian, seolah menunggu seseorang. Aku tetap saja duduk, pikirku ini adalah detik terakhir kumerindukanmu. Tanya ini tak menunggu, setangkai mawar palsu pun telah menemaniku untuk menyambut perayaan ini. Bagiku tapi bukan bagimu. Kau tergopoh sambil membawa tas satu tali yang biasa kau gunakan. Lalu mencari seseorang dan pastinya bukanlah orang aneh yang suka sedirian ini.

     Kali ini berbeda, kau menghampiriku sesaat sebelum perayaan ini. Ketika rindu yang terikat tinggal sehelai rambut yang siap dicabut pula. Lemah sekali, sesaat semua itu berganti menjadi tali tambang kuat yang terikat lengkap dengan pijakannya. Kau berkata “Sudah lama kau menunggu disini?”

                Aku mengangguk cepat.

                “Kau orang yang waktu itu ya?” Dia menceritakan semuanya

      Mulutku menanganga  dan jidatku mengerut. Dia mengetahui diriku dengan sempurna.Apakah ia bisa membaca yang tak tampak? Atau diam-diam dalam sendu ia menuju lapisan bintang yang berada di dasar akalku. Tiba-tiba seseorang yang biasa menemaninya datang kepada kami.

                “Katakan saja yang sebenarnya” Ia berkata sambil tersenyum manis.

                Malam begitu larut. Hingga diriku terpaut oleh gumpalan rasa yang menyita waktu sejak lama. Menerbangkan seisi lautan ke atas langit cerah. Menawakan kilauan yang diseret oleh ombak. Sampai aku membuka mata dari tempat tidurku, dan percaya rindu itu datang lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s