Taman

Bumi terbanting ke sebelah barat.

Ia bercengkrama dengan ribuan bintang yang mengelilinginya

Sudah lama ia sendiri

Menanti hari sesudah esok hari.

 

Wajahnya pilu

Rindunya semu

Mimiknya syahdu

Rapuhnya benalu

 

Kini sebidang tanah dapat berbicara

berbagi dan berdoa kepada air yang menghidupkannya

Mereka menyiraminya perlahan

Tanpa tahu arah dan tujuan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s