Nilai : 8/10

Sebelum menonton Headshot, saya teringat kepada dua film aksi laga yang sempat populer di Indonesia yaitu The Raid: Redemption dan The Raid: Berandal dan beranggapan film ini akan mirip dengan kedua film tersebut baik dari segi cerita maupun teknis film. Ternyata pandangan itu berubah setelah dua jam duduk menonton film ini. Berbeda dari film aksi laga pada umumnya, film ini diwarnai dengan nuansa romantik dan diperkaya sedikit humor di beberapa bagian.

Film dibuka dengan adegan saling tembak antara sipir penjara dan tahanan hingga terjadi banjir darah. Scene pembuka benar-benar dahsyat, keren dan langsung menggambarkan  cerita film. Di dalam kepala penonton akan langsung terbayang: penjahat dan polisi akan saling berhadapan secara tragis dan keren. Sampai saya menonton habis, ternyata cerita film ini lebih menarik dan kompleks.

Sutradara Mo Brothers memberikan apa yang telah menjadi karakter film mereka: darah dan drama. Romantika antara Ishmael (Iko Uwais) dan Ailin (Chelsea Islan) adalah kunci utama dari perjalanan panjang film ini. Selama dua jam disuguhi serangkaian adegan saling bunuh yang brutal dengan menggunakan berbagai senjata tembak hingga tangan kosong. Bahkan orang tua hingga anak kecil, yang tidak terlibat langsung dengan permasalahan langsung tidak dikecualikan. Kelompok penjahat membabi buta semua tanpa ampun.

Perjalanan Ishmael yang kehilangan ingatan, meyakinkan para penonton film ini tak hanya sekedar aksi laga. Akan tetapi sebuah pencarian jati diri. “Siapa aku sebenarnya?” berkali-kali diucapkan Ishmael. Menghadapi ingatannya yang perlahan teringat dalam setiap adegan, ia semakin dekat dengan kepribadian serta siapa Ishmael sebenarnya. Lee (Sunny Pung), Rika (Julie Estelle) dan, anggota kelompok penjahat lain membuat Ishmael terus dihantui rasa penasaran.

Alur cerita sangat terstruktur rapi membuat film ini sangat nikmat ditonton. Akan tetapi, disisi lain cerita sangat kaku dan gampang ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Motif dan polanya sama: bercerita lalu bertengkar. Maka, pada saat adegan berkelahi seringkali dilakukan sambil mengobrol. Inilah yang membuat saya dapat menegaskan bahwa ini adalah film drama-action. Tak hanya itu, beberapa adegan dan dialog sengaja dibuat untuk membuat penonton tertawa. Seperti ketika adegan parang yang tertancap ke tembok atap ketika mau diayunkan. Kesalahan-kesalahan itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga membuat cerita ini semakin dekat kepada penonton.

Pengambilan gambar yang bergerak seirama dengan perkelahian memberikan efek kepada penonton seolah berada dalam adegan tersebut. Tata suara yang mendukung dan efek visual yang rapi menambah dramatas film ini. Hal ini menegaskan penghargaan efek visual terbaik dan tata suara terbaik pada Festival Film Indonesia 2016 yang diberikan kepada film Headshot tidak perlu diragukan.

Hal yang tak kalah menarik adalah bagaimana gerakan-gerakan pencak silat banyak ditampilkan. Meskipun buka pure silat, akan tetapi bisa dikatakan silat merupakan salah satu ikonik dari film ini. Kita patut mengapresiasi koreografer serta para aktor yang mempertunjukannya. Khususnya, pada Ishmael yang bermain sangat ciamik dalam film ini.

Detil

Film ini sangat memperhatikan detil. Baik dari segi pengambilan gambar, tata suara, efek visual, make up, artistik hingga acting para pemeran diatur dengan sangat rapi. Terutama pada saat perkelahian akan terasa bahwa film ini dapat membuat kita sulit bernafas. Darah yang keluar, luka lebam, serta peluru yang ditembak terasa nyata. Cerita yang dibawa pun dapat dikatakan baru untuk film sejenis.

Sayangnya, film ini terkesan tidak realistik. Ishmael yang telah ditembak kepalanya, dipatahkan kaki dan tangannya, seluruh badannya hampir terkena tembakan, hingga wajahnya yang telah babak belur masih tetap bisa bertarung sama seperti saat kondisinya normal. Semua lawan dapat dikalahkan oleh satu orang. Hal ini membuat saya tertawa geli dan menjadikannya sebagai hiburan semata.

Film Mo Brothers kali ini dapat saya katakan sebagai film aksi laga terbaik Indonesia tahun 2016. Telepas dari segala kekurangannya, Headshot memberikan warna baru dalam perfilman Indonesia. Sangat manis untuk menjadi penutup film aksi laga Indonesia pada tahun 2016. Selamat menonton!

HEADSHOT

Jenis Film : Drama, Action

Produser : Mike Wiluan, Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo, Shinjiro Nishimura

Sutradara : Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Penulis : Timo Tjahjanto

Pemeran : Iko Uwais, Sunny Pang, Chelsea Islan, Julie Estelle

Produksi : Screenplay Infinite Films

mv5bmji2mzu2odq4m15bml5banbnxkftztgwotgxmtu5ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s