Review Film The Guys: Kejenuhan yang Terus Diulang

SPOILER ALERT!

Saat mengetahui Raditya Dika akan kembali merilis film terbarunya berjudul The Guys, timbul beberapa asumsi yang membuat saya berharap banyak terhadap karya terbarunya. Setelah Raditya Dika bereksperimen melalui film Hangout, dan bisa dikatakan sukses dari segi kuantitas penonton. Pikir saya akan timbul kembali sebuah film diluar zona nyamannya sebagai seorang “jomblo tragis”. Apalagi saat pertama dirilis posternya, tak menandakan unsur tersebut. Tetapi setelah trailer film tersebut rilis, muncul prasangka yang kurang enak.

Alfi (Raditya Dika), seorang karyawan kantoran yang jenuh terhadap pekerjaannya, mencoba keluar dari zona nyamannya dan berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang bos. Kejenuhan tersebut diperparah dengan keadaan dirinya yang belum memiliki pasangan cukup lama. Beruntungnya Alfi memilki beberapa rekan kantor yang tinggal bersamanya yang selalu mendukung satu sama lain.

Hingga pada suatu hari, Alfi berhasil dekat dengan Almira (Pevita Pearce). Putri dari bos kantornya sendiri yang tekenal galak. Ayahnya Almira ternyata memiliki perasaan khusus dengan Ibunya Alfi yang sama-sama telah ditinggalkan oleh pasangannya masing-masing. Alfi pun berada di posisi bimbang antara memperjuangkan Almira atau merelakannya demi kebahagian Ibunya.

Skenario yang dibuat oleh Raditya Dika kali ini mengalir cukup baik pada babak pertama hingga babak kedua film berjalan. Jokes yang diberikan terkesan natural dan terus memberikan punchline yang selalu mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak sepanjang adegan. Meskipun banyak dihiasi oleh wajah baru, para pemain cukup memberikan performa yang cukup memuaskan. Terutama Sukun (Pongsiree Bunluewon) yang memerankan karakternya secara konsisten dan kuat sepanjang film, sehingga membuat penonton penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sukun setelah ini.

Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama. Semakin mendekati klimaks, The Guys malah kehilangan arah dan membosankan. Hal ini dikarenakan alur cerita yang lamban di babak akhir cerita. Hampir tak ada pengembangan cerita dan karakter sehingga membuat konflik tak cukup kuat dan mulai flat. Ditambah lagi dengan ending cerita tanpa penyelesasian konflik cerita sama sekali. Hal ini menarik kembali angapan saya yang sempat mengatakan ini film terbaik Raditya Dika.

Cover yang berbeda

Jika film Raditya Dika diibaratkan dengan sebuah kado, The Guys memiliki bungkus yang berbeda tapi isinya lagi-lagi sama. Seorang lelaki dengan titel “Jomblo tragis” yang memilki permasalahan dengan hubungan asmaranya. Hanya saja kali ini dibungkus dengan kisah ala karyawan kantor, dan dipercantik dengan pita betemakan keluarga. Hal ini membuat filmThe Guys tak lebih spesial dari karya-karya Raditya Dika sebelumnya. Apalagi hampir tak ada peningkatan secara teknis seperti sinematografi dan detail lainnya. Film ini terkesan terburu-buru. Bahkan jika saya tidak salah informasi, The Guys telah mendapatkan jadwal rilis sebelum filmnya selesai produksi, bahkan dengan waktu yang mepet. Jika Alfi yang diceritakan dalam film ini ingin keluar dari comfort zone, alangkah lebih baiknya Raditya Dika juga mampu demikian dalam kehidupan nyatanya. Sehingga, tak hanya mengubah kulit dan terus menerus memberikan pola yang mirip dalam film yang diarahkannya.

Relevansi dan rasionalitas dalam kehidupan nyata juga menjadi permasalahan dalam film ini. Tidak salah jika seseorang mencoba keluar dari zona nyamannya dan berani untuk resign dari tempat kerja. Hal yang cukup aneh ketika seseorang keluar dari zona nyaman, tanpa persiapan dan arah tujuan yang jelas kedepannya. Ditambah lagi dengan kehidupan praktis yang dirasakan Alfi setelah resign dengan langsung mendapatkan suatu keberhasilan tanpa diperkuat penggambaran usaha yang ia lakukan untuk menunjukkan jati dirinya. Hal inilah yang saya katakan sebelumnya, konflik cerita tak cukup kuat.

Meskipun begitu, film ini akan mampu menghibur untuk menertawakan kehidupan seorang karyawan. Kuatnya chemistry yang terjalin di persahabatan geng ”The Guys” ini akan semakin mengingatkan keseruan dari lingkungan kerja. Film ini tetap layak anda saksikan untuk merasakan atmosfer keseruan  cerita tersebut. Selamat menonton!

THE GUYS 6/10

Jenis Film : Drama

Produser : Sunil Soraya

Sutradara : Raditya Dika

Penulis : Raditya Dika

Produksi : Soraya Intercine Films

Pemeran: Raditya Dika, Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Pongsire Bunluewon.

148964775232770_300x430

 

Advertisements

One thought on “Review Film The Guys: Kejenuhan yang Terus Diulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s