Berbicara tentang film, maka yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah cerita fiksi yang mampu memperluas imaji yang ganas. Akan tetapi akan berbeda hal ketika kita berbicara tentang film biopik dan dokumenter. Keakuratan cerita menjadi poin penting dalam pembuatan film. Sedikit kesalahan saja, akan mampu menimbulkan kontroversi yang patut diperbincangkan. Sebuah tugas besar bagi para pelaku film untuk menyambungkan seni dan realitas yang mutlak ketika memproduksi film biopik.

Tantangan terberat untuk film biopik adalah menentukan kepingan-kepingan cerita yang mampu mengeksplorasi karakter yang diceritakan. Bayangkan betapa sulitnya memilah perjalanan hidup seseorang selama bertahun-tahun dibungkus dalam waktu kurang lebih dua jam melalui audio visual. Hebatnya, Hanung mampu membungkus hal tersebut secara rapi nyaris tanpa ada pita yang kusut.

Kartini (Dian Sastrowardoyo), adalah anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang merupakan seorang bupati Jepara tak lama setelah Kartini lahir. Berbeda status dengan suaminya, Ibu kandung kartini bernama Ngasirah (Christine hakim) adalah seorang perempuan yang tidak berasal dari keluarga bangsawan. Pada masa itu, terdapat aturan yang menharuskan seorang bupati harus beristrikan perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan untuk mengangkat derajat Sosroningrat agar diangkat menjadi bupati. Aturan tersebut membuat Sosroningrat terpaksa menikahi Moeryam (Djenar Maesa Ayu) yang memiliki keturunan ningrat.

Pada saat itu juga, hanya ningrat yang boleh berpendidikan tinggi. Wanita tidak diberikan kesempatan sama sekali bersekolah ke jenjang yang tinggi. Wanita Jawa pada masa itu hanya menunggu untuk dinikahi seorang pria. Bahkan Ibu kandungnya menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri dan dianggap layaknya seorang pembantu. Tak ada yang mampu melawan tradisi.

Hidup Kartini didedikasikan untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang terutama tentang pendidikan, tidak peduli jenis kelamin, ataupun berasal dari kalangan ningrat atau bukan. Bersama kedua saudarinya, Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa), Kartini mendirikan sekolah untuk kalangan rakyat yang bukan ningrat di Jepara dan sekitarnya.

Begitu banyaknya hal yang bisa diangkat dalam cerita sesosok Kartini. Hanung Bramantyo pun menggunakan pemeran yang memperkuat jalannya cerita seperti Kartono (Reza Rahadian) , Slamet Sosroningrat (Denny Sumargo), dan Soelastri (Ardinia Wirasti) yang ketiganya memiliki silsilah keluarga Kartini.

Durasi 2 jam di film ini terasa efektif dalam bercerita. Kebanyakan film biopik terjebak dalam kecenderungan untuk menimbulkan begitu banyak narasi sepanjang film diputar. Hal tersebut tak tampak dalam film Kartini yang diproduseri oleh Robert Ronny ini. Dibuktikan dengan tak adanya shot-shot pendek yang bisa membuat penonton bingung karena menerima begitu banyak dan terlalu cepat menerima informasi, semuanya dibiarkan mengalir. Meskipun terdapat beberapa bagian di awal skenario yang terasa terlalu cepat, tapi hal tersebut mampu ditutupi oleh bagian setelahnya.

Saat mengetahui film ini akan diperankan oleh sejumlah nama besar, tentu akan muncul ekspektasi tinggi terhadap para pemeran. Alhasil, ekspektasi tersebut mampu dijawab oleh sederet cast yang berperan sangat apik dan memiliki chemistry yang kuat dalam film ini. Kedalaman karakter dan adegan menjadi kekuatan yang mampu memikat penonton untuk ikut merasakan kesakitan dan kegelisahan tiap karakter. Film Kartini tak hanya dalam tapi juga sangat pas dalam mengatur kelebaran dalam bercerita.

Cara Hanung dalam menggambarkan sesuatu dalam film Kartini pun bisa dikatakan cukup unik. Seperti pada scene dimana Kartini dan kedua adiknya sedang membaca, kita langsung diajak bertamasya dalam perjalanan aksara. Hanung membawa kita pada suatu cara bercerita yang seolah nyata. Penempatan midpoint dalam skenario film ini pun terasa efektif, dimana Kartini bertanya kepada seorang Kyai “Apakah membaca hanya untuk kaum laki-laki?”. Adegan ini mengingatkan saya pada film Perempuan Berkalung Sorban, yang juga distruadarai Hanung. Dimana kedua film tersebut memiliki pesan yang mirip yaitu pentingnya membaca bagi kaum hawa, hanya saja pendekatannya berbeda.

 

Sosok Kartini saat ini

Hal yang patut diapresiasi dalam film ini adalah riset dan eksplorasi Hanung Bramantyo terhadap sosok Kartini. Banyak hal baru yang saya ketahui tentang Kartini setelah menonton film ini. Film Kartini mampu memperluas perspektif kita dalam memahami Kartini. Saat saya membaca sekilas buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja, saya seolah diajak ikut merasakan pemikiran dan perjuangan sosok Kartini . Hanung kembali membawa saya ke dalam perasaan yang sama, merasakan perjuangan tersebut melalui gambar bergerak dan tata suara yang sangat nyaman untuk dinikmati.

Kartini berfokus pada dua hal, yaitu tradisi dan pendidikan. Film ini menceritakan bagaimana beratnya menjalani kehidupan tanpa diberikan kebebasan memilih dan ketidakadilan. Pemikiran-pemikiran Kartini yang kita kenal melalui tulisannya, memiliki perhatian khusus terhadap tradisi dan pendidikan pada masa itu. Pendidikan adalah gerbang pertama untuk menghilangkan gelap. Kartini adalah salah simbol perlawanan diantara “penerimaan” yang dilakukan masyarakat Jawa saat itu. Melalui penggambaran tiap adegannya, kegelisahan kartini masih terlihat nyata di Indonesia hingga saat ini. Perjuangan Kartini masih belum tuntas.

Kartini 8,5/10

KARTINI

Produksi: Legacy Pictures in Association Screenplay Films

Produser: Robert Ronny

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Skenario: Bagus Bramanthi dan Hanung Bramantyo

DOP: Faozan Rizal

Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, dan Reza Rahaddian

Tayang 19 April 2017

 kartini-poster

Advertisements

2 thoughts on “Review Film Kartini: Perjuangan yang Belum Tuntas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s