Pandanganku tertegun setelah membaca sebuah judul artikel yang sudah lama sangat kunanti.

“Reopening Kedai Filosofi Kopi”

           Wajar saja, sebagai pencinta kopi sekaligus penggemar setia sosok Ben si barista yang keras kepala dengan segala idealisme yang ia pegang dan Jody si pemilik kedai yang selalu memikirkan cuan. Akan tetapi, dengan segala perbedaan sifat keduanya serta prinsip yang mereka pegang itu lah yang membuat aku selalu mencari tahu apa yang akan dilakukan kedua orang ini untuk Kedai Filosofi Kopi selanjutnya.

         Beberapa kali aku mampir kesana untuk memasan menu favoritku yaitu Kopi Tiwus dan Perfecto hingga akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa mereka menjual Kedai Filosofi Kopi dan memutuskan untuk pergi keliling Indonesia dengan mobil combi yang mereka punya. Aku salah satu orang yang kecewa dengan keputusan tersebut, akan tetapi secara bersamaan mendukung keputusan tersebut karena mereka ingin memperkenalkan kopi enak ke seluruh Indonesia.

            Dua tahun berlalu, aku  terus mengikuti perjalanan cerita mereka berdua untuk mengopikan Indonesia akhirnya mendengar kabar bahwa mereka akan kembali ke Jakarta. Hanya saja kali ini ada beberapa hal yang berbeda, ada dua orang baru yang menjadi perbincangan di sesama komunitas pencinta Kedai Filosofi Kopi. Dua orang itu adalah Tarra dan Brie. Kabarnya, Tarra ialah seorang investor baru yang menanamkan saham di Kedai Filosofi Kopi sedangkan Brie ialah seorang barista baru yang concern terhadap pertanian kopi. Diriku semakin penasaran, apakah kedua sosok ini akan mampu mengembalikan filosofi yang ada di Kedai Filosofi Kopi? Karena katanya dengan adanya kedua orang ini, Kedai Filosofi Kopi semakin melebarkan sayapnya. Salah satunya akan dibukanya cabang baru Kedai Filosofi Kopi di Jogja.

            Akhirnya setelah beberapa hari Kedai Filosofi Kopi dibuka kembali, diriku menyempatkan diri untuk meminum kopi di sana dan melengkapi koleksi kartu filosofiku. Sore hari sepulang kerja, diriku sampai di bagian laur Kedai Filosofi Kopi. Tak banyak yang berbeda di sana. Pintu masuk kedai yang kembali digambar dengan mural yang tak asing dilihat, di dalam kedai masih tergantung karya-karya seni yang indah, merchandise yang digantung rapi untuk dijual dan, disampingnya berbaris biji-biji kopi andalan Kedai Filosofi Kopi. Aku memasan secangkir kopi Perfecto dengan teknik manual brewing V60. Satu hal yang membuat Filosofi Kopi semakin nyaman untuk dinikmati, lagu-lagu yang dimainkan di sana. Racikan musik dan lagu dimainkan oleh musisi yang sudah cukup terkenal seperti Fourtwnty dan Banda Neira, hingga lagu-lagu yang cukup asing didengar di Filosofi Kopi mampu memperdalam atmosfer di sana. Setelah mencari tahu, diriku baru tahu lagu-lagu asing tersebut dimainkan oleh Leanna Rachel. Lagu-lagu ini memberikan ”soul” baru di Filosofi Kopi.

DSCF9864

            Setelah menunggu lama hingga malam hari, akhirnya Mas Jody datang ke Kedai Filosofi Kopi. Aku langsung menyapa Mas Jody karena ingin mengobrol tentang perjalan ia mengarungi Indonesia hingga akhirnya kembali membuka kedai Filosofi Kopi untuk mengopikan Indonesia.

            “Mas Jod, Mas Ben di mana?”

            “Wah dia lagi ga ada sini, dia lagi pergi sama Brie ke luar kota.” Mas Jody duduk di mejaku setelah menyapa karyawan-karyawan di sana.

            Pupus sudah harapanku untuk bertemu Mas Ben dan Brie, juga Tarra yang katanya sedang melakukan riset untuk ekspansi Kedai Filosofi Kopi ke daerah lain. Akan tetapi rasa penasaran tersebut terobati karena Mas Jody menceritakan perjalanan panjangnya selama ini kepadaku yang sangat kepo dengan perjalanan Mas Jody dan Ben. Lalu ia memperlihatkan kumpulan foto dan video yang ia buat selama perjalanan. Tentu diriku memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap cerita yang akan disampaikan Mas Jod, karena ketertarikan ku yang sangat kuat dengan perjalanan Mas Ben dan Jody.

S__56655887

            Setelah mendengar cerita, melihat foto-foto serta, menonton video yang diberikan Mas Jody, ekspektasiku terbayar lunas. Cerita perjalanan Filosofi Kopi kali ini terasa lebih kuat dan dalam dari perjalanan awalnya. Konflik diantara mereka mungkin tak sebesar saat mereka terjebak hutang yang besar atau mencari kopi terenak yang pernah ada. Dimana mereka kali ini malah kembali terjebak dalam hal yang mendasar seperti masa lalu, idealisme, ego dan, duka. Akan tetapi justru konflik mendasar ini membuat diriku semakin mengenal karakter mereka lebih mendalam, bahkan walaupun diriku belum bertemu langsung dengan mereka. Chemistry diantara mereka semakin kuat, khususnya Ben dan Jody, ditambah dengan support tim baru di Filosofi Kopi yaitu Tarra dan Brie yang memiliki peranan kuat terhadap perubahan karakter keduanya. Aku yakin cerita ini tak hanya bisa dinikmati oleh pencinta kopi, tapi juga bisa dinikmati oleh saja. Karena permasalahan persahabatan dan profesional kerja memang sering menjadi permasalahan banyak orang

             Video yang diperlihatkan Mas Jody warna serta arahannya pun sangat cantik dan tajam. Meskipun masih banyak shaking seperti video yang pernah ditontonkan sebelumnya pada dua tahun yang lalu, tapi justru hal ini membuat diriku seolah berada didalamnya. Hanya saja di dalam video tersebut meskipun terkadang terasa pas di beberapa momen, tetapi penempatan lagunya terasa over. Lalu ada beberapa bagian video yang juga terlalu sering endoresment sepanjang video. Meskipun begitu, hal tersebut tak begitu mempengaruhi keseruan perjalanan Mas Ben dan Mas Jody menemukan dirinya.

            Malam semakin larut, es batu di gelas sebelah juga sama. Mas Jody kembali dengan aktifitasnya mengawasi kerja para pegawai di Filkop. Aku berkemas dari kursiku dan kembali memperhatikan suasana kedai. Sebelumnya aku sempat membaca artikel di kopikini.com yang intinya mengatakan bahwa “Filosofi Kopi kembali dengan  gaya baru, akan tetapi filosofi kopi kembali tanpa filosofinya.” Aku tidak sependapat, justru kali ini Filosofi Kopi semakin memantapkan filosofinya dan kembali dengan lebih bebas. Aku mengutip kata Mas Ben “Setiap yang punya rasa, selalu punya nyawa”, itulah filosofi dari Filosofi Kopi. Memiliki rasa yang nikmat dan nyawa yang kuat.

Rating 4/5

ps: Kata Mas Jody, ia akan menayangkan video tersebut di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 13 Juli 2017. Mari menonton!

Keterangan:

  • Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan cerita itu adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
  • Akan tetapi penialian ini nyata, berdasarkan pengamatan penulis setelah menonton film Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody
  • Special thanks to: Kedai Filosofi Kopi, Rio Dewanto dan, seluruh pihak yang terlibat.
  • Tulisan ini adalah bagian pertama yang merupakan permukaannya, bagian kedua telah saya tulis lebih serius serta mendalam dan akan di-publish setelah beberapa hari tayang.

 

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy
Jenis Film: Drama

Produser: Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Penulis: Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko

Pemeran: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra

Produksi: Visinema Pictures, 13 Entertainment

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s