Mengawali tahun 2018, Dilan adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Film yang diadaptasi dari novel best-seller karya Pidi Baiq ini telah banyak dicintai oleh penggemarnya. Sampai ketika, pihak Falcon Pictures yang mengantongi hak cipta dari novel Dilan sempat ramai dibicarakan. Pada saat itu, Falcon Pictures mengumukan Dilan akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dan Milea yang akan diperankan oleh Vanesha Prescilla menuai anggapan pro dan kontra karena bayangan para pembaca tentang sosok Dilan dan Milea.

      Mari kita coba sedikit kesampingkan novel Dilan dari filmnya, karena pada dasarnya novel dan film adalah dua medium cerita yang berbeda. Jika di novel akan banyak kata-kata bertutur dan mengungkapkan secara detail, sedangkan film pada dasarnya membutuhkan efisiensi dalam bercerita dan menggambarkan karakter di dalamnya karena terbatas pada kepadatan durasi film. Disitulah letak tersulit dan tantangan bagi seorang sutradara maupun penulis skenario tentang bagian-bagian mana saja yang perlu yang perlu dan tidak perlu dari novel untuk dimasukkan ke dalam film.

 

Dilan

“Kamu, Milea ya?”

   Film ini mengambil cerita dari sudut pandang Milea, bagaimana suara hati Milea terhadap Dilan  yang mendekati dirinya dengan cara-cara yang unik. Milea memanggil Dilan dengan peramal sebelum mengetahui namanya, dan tak butuh waktu lama bagi Milea mengenal Dilan yang memang sudah terkenal di sekolah karena jabatan yang ia miliki sebgai panglima salah satu geng motor yang terbesar di Bandung sekaligus berandalan sekolah.

     Konsistensi Dilan mendekati Milea dengan cara-cara yang unik seperti memberikan ramalan hingga TTS sebagai kado ulang tahun akhirnya berhasil menarik hati Milea yang memang pada saat itu jauh dari pacarnya yang ada di Jakarta. Banyak yang mendekati Milea, setidaknya menurut tulisan Dilan ada 5 orang termasuk Dilan yang menyukai Milea di sekolahnya, belum lagi Milea yang masih punya pacar di Jakarta. Tapi itu tidak membuat Dilan tidak percaya diri, kecuali sama satu orang yaitu Kang Adi (Refal Hady), guru privat Milea. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana Milea bercerita tentang dirinya dan Dilan sampai di titik dimana mereka memutuskan untuk Bersama alias berpacaran.

063729700_1513160686-dilan2

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja. (Dilan 1990)

       Sebagaimana tanggapan pro dan kontra dari film ini sebelumnya, pada saat trailer film Dilan diluncurkan pun kembali menuai banyak tanggapan miring, termasuk saya. Dialog dalam film Dilan sangat mirip dengan bahasa yang digunakan di novel, sehingga terdengar agak aneh. Akan tetapi, ada satu hal yang terlupakan yaitu konsistensi karakter. Iqbaal yang memerankan Dilan, ternyata berhasil menjaga konsistensi karakternya. Tak masalah jika memang Dilan berbicara dengan gaya dan bahasa yang kaku, toh memang karakter tersebut diciptakan seperti itu ketika ia sedang berbicara dengan Milea. Ketika berbicara dengan teman-temannya yang lain, Dilan juga memiliki “bahasa”-nya sendiri. Bukankah hal ini wajar, ketika seseorang berbicara dengan gaya bahkan bahasa yang berbeda untuk tiap-tiap orang yang diajaknya berbicara, justru disitu letak keunikan Dilan. Kembali ke poin tadi, Dilan berhasil menjaga konsistensi dari karakternya sebagaimana ia konsisten mendekati Milea dengan cara uniknya.

     Sosok Dilan dan Milea yang disajikan oleh Fajar Bustomi selaku sutradara berhasil menimbulkan kesan yang mendalam, peran mereka sangat hidup dan natural. Chemistry antara Dilan dan Milea-pun sangat kuat, dialognya juga cukup kuat dan disampaikan dengan cara yang baik. Akan tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan kontruksi adegan yang terasa percuma alias tidak efisien, salah satunya penggambaran dalam meja makan yang hanya untuk memperkenalkan keluarga Dilan, tanpa ada pengembangangan cerita lebih lanjut. Sesekali alur terasa cepat tapi sesekali juga terasa sangat lambat. Film ini memang berhasil membuat saya beranggapan bahwa Dilan dan Milea adalah sepasang kekasih yang unik dan menarik, tapi para karakter pendukung di film Dilan lainnya hanya terasa sebagai pelengkap saja dan tidak terlalu memperkuat bagian cerita dan perkembangan karakter utama kecuali ibunya Dilan yang memiliki peran tersendiri.

     Secara artistik film ini cukup detil menggambarkan suasana Bandung di tahun 1990, hanya saja untuk urusan teknis lainnya terasa biasa dan tak ada yang spesial terutama dari segi sinematografi dan suntingan gambar. Bahkan ada scene dimana film tersebut menggunakan teknologi green screen yang sangat mengganggu. Urusan tata suara dan musik di beberapa bagian cukup meninggalkan kesan, pemilihan lagu yang menggambarkan suasana hati Milea dan Dilan berhasil membawa penonton masuk ke dalam dunia mereka berdua.

   Unique, enjoyable, and powerful. Film ini memang jauh dari kata sempurna, dan memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi film Dilan 1990 membuat nyaman untuk melihat kisah-kisah romantis dari Dilan dan Milea, kisah cinta yang menggambarkan perlunya konsistensi. Kisah yang mampu membawa kita mengenang masa-masa indah di SMA.  Don’t judge the movie before you watch it. Aku ramal film ini akan ditonton lebih dari dua juta penonton. Selamat menonton!

Rating: 6,5/10

 

Dilan 1990 

poster-dilan

Produser: Ody Mulya Hidayat
Sutradara: Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Penulis: Pidi Baiq, Titien Wattimena
Pemeran: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla

Produksi: Falcon Pictures

Advertisements

One thought on “REVIEW FILM: DILAN 1990

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s