REVIEW FILM: DILAN 1990

       Mengawali tahun 2018, Dilan adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Film yang diadaptasi dari novel best-seller karya Pidi Baiq ini telah banyak dicintai oleh penggemarnya. Sampai ketika, pihak Falcon Pictures yang mengantongi hak cipta dari novel Dilan sempat ramai dibicarakan. Pada saat itu, Falcon Pictures mengumukan Dilan akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan dan Milea yang akan diperankan oleh Vanesha Prescilla menuai anggapan pro dan kontra karena bayangan para pembaca tentang sosok Dilan dan Milea.

      Mari kita coba sedikit kesampingkan novel Dilan dari filmnya, karena pada dasarnya novel dan film adalah dua medium cerita yang berbeda. Jika di novel akan banyak kata-kata bertutur dan mengungkapkan secara detail, sedangkan film pada dasarnya membutuhkan efisiensi dalam bercerita dan menggambarkan karakter di dalamnya karena terbatas pada kepadatan durasi film. Disitulah letak tersulit dan tantangan bagi seorang sutradara maupun penulis skenario tentang bagian-bagian mana saja yang perlu yang perlu dan tidak perlu dari novel untuk dimasukkan ke dalam film.

 

Dilan

“Kamu, Milea ya?”

   Film ini mengambil cerita dari sudut pandang Milea, bagaimana suara hati Milea terhadap Dilan  yang mendekati dirinya dengan cara-cara yang unik. Milea memanggil Dilan dengan peramal sebelum mengetahui namanya, dan tak butuh waktu lama bagi Milea mengenal Dilan yang memang sudah terkenal di sekolah karena jabatan yang ia miliki sebgai panglima salah satu geng motor yang terbesar di Bandung sekaligus berandalan sekolah.

     Konsistensi Dilan mendekati Milea dengan cara-cara yang unik seperti memberikan ramalan hingga TTS sebagai kado ulang tahun akhirnya berhasil menarik hati Milea yang memang pada saat itu jauh dari pacarnya yang ada di Jakarta. Banyak yang mendekati Milea, setidaknya menurut tulisan Dilan ada 5 orang termasuk Dilan yang menyukai Milea di sekolahnya, belum lagi Milea yang masih punya pacar di Jakarta. Tapi itu tidak membuat Dilan tidak percaya diri, kecuali sama satu orang yaitu Kang Adi (Refal Hady), guru privat Milea. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana Milea bercerita tentang dirinya dan Dilan sampai di titik dimana mereka memutuskan untuk Bersama alias berpacaran.

063729700_1513160686-dilan2

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja. (Dilan 1990)

       Sebagaimana tanggapan pro dan kontra dari film ini sebelumnya, pada saat trailer film Dilan diluncurkan pun kembali menuai banyak tanggapan miring, termasuk saya. Dialog dalam film Dilan sangat mirip dengan bahasa yang digunakan di novel, sehingga terdengar agak aneh. Akan tetapi, ada satu hal yang terlupakan yaitu konsistensi karakter. Iqbaal yang memerankan Dilan, ternyata berhasil menjaga konsistensi karakternya. Tak masalah jika memang Dilan berbicara dengan gaya dan bahasa yang kaku, toh memang karakter tersebut diciptakan seperti itu ketika ia sedang berbicara dengan Milea. Ketika berbicara dengan teman-temannya yang lain, Dilan juga memiliki “bahasa”-nya sendiri. Bukankah hal ini wajar, ketika seseorang berbicara dengan gaya bahkan bahasa yang berbeda untuk tiap-tiap orang yang diajaknya berbicara, justru disitu letak keunikan Dilan. Kembali ke poin tadi, Dilan berhasil menjaga konsistensi dari karakternya sebagaimana ia konsisten mendekati Milea dengan cara uniknya.

     Sosok Dilan dan Milea yang disajikan oleh Fajar Bustomi selaku sutradara berhasil menimbulkan kesan yang mendalam, peran mereka sangat hidup dan natural. Chemistry antara Dilan dan Milea-pun sangat kuat, dialognya juga cukup kuat dan disampaikan dengan cara yang baik. Akan tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan kontruksi adegan yang terasa percuma alias tidak efisien, salah satunya penggambaran dalam meja makan yang hanya untuk memperkenalkan keluarga Dilan, tanpa ada pengembangangan cerita lebih lanjut. Sesekali alur terasa cepat tapi sesekali juga terasa sangat lambat. Film ini memang berhasil membuat saya beranggapan bahwa Dilan dan Milea adalah sepasang kekasih yang unik dan menarik, tapi para karakter pendukung di film Dilan lainnya hanya terasa sebagai pelengkap saja dan tidak terlalu memperkuat bagian cerita dan perkembangan karakter utama kecuali ibunya Dilan yang memiliki peran tersendiri.

     Secara artistik film ini cukup detil menggambarkan suasana Bandung di tahun 1990, hanya saja untuk urusan teknis lainnya terasa biasa dan tak ada yang spesial terutama dari segi sinematografi dan suntingan gambar. Bahkan ada scene dimana film tersebut menggunakan teknologi green screen yang sangat mengganggu. Urusan tata suara dan musik di beberapa bagian cukup meninggalkan kesan, pemilihan lagu yang menggambarkan suasana hati Milea dan Dilan berhasil membawa penonton masuk ke dalam dunia mereka berdua.

   Unique, enjoyable, and powerful. Film ini memang jauh dari kata sempurna, dan memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi film Dilan 1990 membuat nyaman untuk melihat kisah-kisah romantis dari Dilan dan Milea, kisah cinta yang menggambarkan perlunya konsistensi. Kisah yang mampu membawa kita mengenang masa-masa indah di SMA.  Don’t judge the movie before you watch it. Aku ramal film ini akan ditonton lebih dari dua juta penonton. Selamat menonton!

Rating: 6,5/10

 

Dilan 1990 

poster-dilan

Produser: Ody Mulya Hidayat
Sutradara: Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Penulis: Pidi Baiq, Titien Wattimena
Pemeran: Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla

Produksi: Falcon Pictures

Advertisements

Icip-Icip Makanan Papua di Papoea Kemang

Makanan adalah warisan budaya, dimana makanan khas daerah memiliki nilai-nilai dalam suatu wilayah. Seperti makanan pokok di sebagian besar wilayah Indonesia yaitu Nasi, juga memiliki asal-usulnya sendiri baik secara budaya maupun spiritual. Hal ini tak terlepas dari, ciri khas dan nilai-nilai yang dibawa oleh nenek moyang kita terhadap pentingnya makanan untuk bertahan hidup. Semua daerah memiliki ciri khas masakan dan makanannya masing-masing, tak tekecuali di tanah Papua.

Mayoritas masyarakat Papua menjadikan sagu sebagai makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Tak hanya sebagai konsumen, Papua juga menjadi daerah yang memiliki lahan Sagu terbesar di Indonesia. Tercatat di Indonesia memiliki lebih dari 2 juta lahan sagu, dan mayoritasnya berada di Papua. Oleh sebab itu tak heran bagaimana masyarakat Papua menghargai sagu, tak hanya sebagai bahan pangan, tapi juga sebagai kebutuhan sandang dan papan.

Saat diundang oleh @belangaindonesia dan @papoea.kemang untuk mengikuti kegiatan Icip Bareng di akhir pekan lalu, saya sangat excited untuk kali pertama mencicipi langsung makanan Papua. Dimana tak hanya sekedar kegiatan makan bersama dengan para pencinta kuliner, di acara tersebut kami juga mendapatkan edukasi seputar asal-usul makanan khas Papua, diskusi dengan sesama penggiat kuliner dan budaya, serta tentu saja mecicipi langsung makanan Papua yang di jual di Papoea Kemang.

Setelah MC membuka kegiatan dan dilanjutkan dengan presentasi dari owner Papoea Kemang. Kami langsung dihidangan dengan makanan pembuka yaitu cemilan-cemilan khas Papua seperti Papeda Goreng, Papeda Bakar, Pisang Noken, dan cemilan khas Papua lainnya. Makanan ini memang sedikit asing bagi saya, tapi ternyata cemilan-cemilan yang disediakan di Papoea Kemang cukup nikmat dan memiliki bergam variasi yang bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Kalo favorit saya yaitu papeda goreng, walaupun mirip seperti cireng, papeda goreng memiliki keunikan rasa tersendiri dan tekstur yang lebih lembut sehingga mudah dimakan.

Lalu diperlengkap dengan minuman kesukaan saya yaitu kopi. Kopi Papua yang telah terkenal dengan produksi biji kopi arabika terbaik, rendah asam, dan kafein. Kopi Papua yang disajikan oleh barista Papoea Kemang dengan metode V60 mampu memaksimalkan rasa dari kopi tersebut. Meskipun agak sedikit pekat, tapi tidak mempengaruhi rasa pahit yang diberikan. Saya juga sempat mencicipi café latte dan hasilnya juga tidak mengecewakan, komposisi café latte tersebut sangat pas dan nikmat untuk diminum.

Lalu, sampailah pada satu makanan yang asing menurut saya yaitu papeda yang dilengkapi dengan kuah kuning. Cara makannya pun cukup unik, kita menggunakan sumpit untuk mengambil papeda di dalam mangkunk. Cara mengambilnya pun tidak seperti makan mie atau nasi, papeda yang diambil harus dililit agar tidak jatuh dan semakin kental. Lalu dimasukkan ke dalam kuah kuning yang nantinya dimakan dengan cara dihirup langsung dari piringnya. Papeda dengan kuah kuning adalah makanan favorit dan paling recommended bagi saya. Silahkan dicoba.

Lalu tiba dengan hidangan utama yaitu Nasi Bakar Ikan Asar asli Papua, daging ikan tersebut dipotong kecil-kecil dengan campuran bumbu khas papua. Ikan Asar ini pada dasarnya mirip dengan ikan asap. Hal yang mebedakannya, dagingnya sangat gurih dan aroma yang begitu mengunggah selera makan. Gurihnya daging ini sangat cocok dinikmati dengan sambal maupun kecap. Saya juga melakukan eksperimen dengan menambahkan kuah kuning sebelumnya, dan ternyata rasanya semakin nikmat.

“Tak kenal maka tak sayang”

Kutipan yang sangat mainstream ini memang benar adanya, kita tidak akan tahu sebelum kenal dan mencobanya. Setelah makan di Papoea Kemang, saya berkomitmen untuk mencoba lebih banyak lagi makanan-makanan khas nusantara yang belum pernah saya coba. Memakan masakan nusantara juga merupakan salah satu  cara untuk melestarikan budaya Indonesia.

 

Jika anda ingin mencicipi nikmatnya makanan khas papua, silahkan datang ke:

PAPOEA KEMANG

Jalan Kemang Raya, No. 72. Gedung Sentra 72., RT.7/RW.2, RT.7/RW.2, Bangka, Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730

Buka setiap hari jam 12.00-21.00

Range Harga per-porsi: Rp50.000-Rp150.000

Mereka Bertemu Kembali

Malam itu, mereka bertemu kembali

sekali lagi bertamu

Hanya saja kali ini tak sendiri

Berempat, di atas meja dari tong kosong tak berguna

 

Aku menatap gemetar

kau menetap tak beranjak, hanya saja

itu bukan untukku

Diantara segiempat yang acuh di satu sisi

 

Bercerita luas, tanpa tau ada batas

Menghentikan tanpa mau berhenti

Kau terkagum pada satu sisi

padahal yang kau lihat, itu tak seberapa

(Story) Review Film Filosofi Kopi 2, Ben & Jody: Filosofi Kopi Kembali dengan Filosofinya

Pandanganku tertegun setelah membaca sebuah judul artikel yang sudah lama sangat kunanti.

“Reopening Kedai Filosofi Kopi”

           Wajar saja, sebagai pencinta kopi sekaligus penggemar setia sosok Ben si barista yang keras kepala dengan segala idealisme yang ia pegang dan Jody si pemilik kedai yang selalu memikirkan cuan. Akan tetapi, dengan segala perbedaan sifat keduanya serta prinsip yang mereka pegang itu lah yang membuat aku selalu mencari tahu apa yang akan dilakukan kedua orang ini untuk Kedai Filosofi Kopi selanjutnya.

         Beberapa kali aku mampir kesana untuk memasan menu favoritku yaitu Kopi Tiwus dan Perfecto hingga akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa mereka menjual Kedai Filosofi Kopi dan memutuskan untuk pergi keliling Indonesia dengan mobil combi yang mereka punya. Aku salah satu orang yang kecewa dengan keputusan tersebut, akan tetapi secara bersamaan mendukung keputusan tersebut karena mereka ingin memperkenalkan kopi enak ke seluruh Indonesia.

            Dua tahun berlalu, aku  terus mengikuti perjalanan cerita mereka berdua untuk mengopikan Indonesia akhirnya mendengar kabar bahwa mereka akan kembali ke Jakarta. Hanya saja kali ini ada beberapa hal yang berbeda, ada dua orang baru yang menjadi perbincangan di sesama komunitas pencinta Kedai Filosofi Kopi. Dua orang itu adalah Tarra dan Brie. Kabarnya, Tarra ialah seorang investor baru yang menanamkan saham di Kedai Filosofi Kopi sedangkan Brie ialah seorang barista baru yang concern terhadap pertanian kopi. Diriku semakin penasaran, apakah kedua sosok ini akan mampu mengembalikan filosofi yang ada di Kedai Filosofi Kopi? Karena katanya dengan adanya kedua orang ini, Kedai Filosofi Kopi semakin melebarkan sayapnya. Salah satunya akan dibukanya cabang baru Kedai Filosofi Kopi di Jogja.

            Akhirnya setelah beberapa hari Kedai Filosofi Kopi dibuka kembali, diriku menyempatkan diri untuk meminum kopi di sana dan melengkapi koleksi kartu filosofiku. Sore hari sepulang kerja, diriku sampai di bagian laur Kedai Filosofi Kopi. Tak banyak yang berbeda di sana. Pintu masuk kedai yang kembali digambar dengan mural yang tak asing dilihat, di dalam kedai masih tergantung karya-karya seni yang indah, merchandise yang digantung rapi untuk dijual dan, disampingnya berbaris biji-biji kopi andalan Kedai Filosofi Kopi. Aku memasan secangkir kopi Perfecto dengan teknik manual brewing V60. Satu hal yang membuat Filosofi Kopi semakin nyaman untuk dinikmati, lagu-lagu yang dimainkan di sana. Racikan musik dan lagu dimainkan oleh musisi yang sudah cukup terkenal seperti Fourtwnty dan Banda Neira, hingga lagu-lagu yang cukup asing didengar di Filosofi Kopi mampu memperdalam atmosfer di sana. Setelah mencari tahu, diriku baru tahu lagu-lagu asing tersebut dimainkan oleh Leanna Rachel. Lagu-lagu ini memberikan ”soul” baru di Filosofi Kopi.

DSCF9864

            Setelah menunggu lama hingga malam hari, akhirnya Mas Jody datang ke Kedai Filosofi Kopi. Aku langsung menyapa Mas Jody karena ingin mengobrol tentang perjalan ia mengarungi Indonesia hingga akhirnya kembali membuka kedai Filosofi Kopi untuk mengopikan Indonesia.

            “Mas Jod, Mas Ben di mana?”

            “Wah dia lagi ga ada sini, dia lagi pergi sama Brie ke luar kota.” Mas Jody duduk di mejaku setelah menyapa karyawan-karyawan di sana.

            Pupus sudah harapanku untuk bertemu Mas Ben dan Brie, juga Tarra yang katanya sedang melakukan riset untuk ekspansi Kedai Filosofi Kopi ke daerah lain. Akan tetapi rasa penasaran tersebut terobati karena Mas Jody menceritakan perjalanan panjangnya selama ini kepadaku yang sangat kepo dengan perjalanan Mas Jody dan Ben. Lalu ia memperlihatkan kumpulan foto dan video yang ia buat selama perjalanan. Tentu diriku memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap cerita yang akan disampaikan Mas Jod, karena ketertarikan ku yang sangat kuat dengan perjalanan Mas Ben dan Jody.

S__56655887

            Setelah mendengar cerita, melihat foto-foto serta, menonton video yang diberikan Mas Jody, ekspektasiku terbayar lunas. Cerita perjalanan Filosofi Kopi kali ini terasa lebih kuat dan dalam dari perjalanan awalnya. Konflik diantara mereka mungkin tak sebesar saat mereka terjebak hutang yang besar atau mencari kopi terenak yang pernah ada. Dimana mereka kali ini malah kembali terjebak dalam hal yang mendasar seperti masa lalu, idealisme, ego dan, duka. Akan tetapi justru konflik mendasar ini membuat diriku semakin mengenal karakter mereka lebih mendalam, bahkan walaupun diriku belum bertemu langsung dengan mereka. Chemistry diantara mereka semakin kuat, khususnya Ben dan Jody, ditambah dengan support tim baru di Filosofi Kopi yaitu Tarra dan Brie yang memiliki peranan kuat terhadap perubahan karakter keduanya. Aku yakin cerita ini tak hanya bisa dinikmati oleh pencinta kopi, tapi juga bisa dinikmati oleh saja. Karena permasalahan persahabatan dan profesional kerja memang sering menjadi permasalahan banyak orang

             Video yang diperlihatkan Mas Jody warna serta arahannya pun sangat cantik dan tajam. Meskipun masih banyak shaking seperti video yang pernah ditontonkan sebelumnya pada dua tahun yang lalu, tapi justru hal ini membuat diriku seolah berada didalamnya. Hanya saja di dalam video tersebut meskipun terkadang terasa pas di beberapa momen, tetapi penempatan lagunya terasa over. Lalu ada beberapa bagian video yang juga terlalu sering endoresment sepanjang video. Meskipun begitu, hal tersebut tak begitu mempengaruhi keseruan perjalanan Mas Ben dan Mas Jody menemukan dirinya.

            Malam semakin larut, es batu di gelas sebelah juga sama. Mas Jody kembali dengan aktifitasnya mengawasi kerja para pegawai di Filkop. Aku berkemas dari kursiku dan kembali memperhatikan suasana kedai. Sebelumnya aku sempat membaca artikel di kopikini.com yang intinya mengatakan bahwa “Filosofi Kopi kembali dengan  gaya baru, akan tetapi filosofi kopi kembali tanpa filosofinya.” Aku tidak sependapat, justru kali ini Filosofi Kopi semakin memantapkan filosofinya dan kembali dengan lebih bebas. Aku mengutip kata Mas Ben “Setiap yang punya rasa, selalu punya nyawa”, itulah filosofi dari Filosofi Kopi. Memiliki rasa yang nikmat dan nyawa yang kuat.

Rating 4/5

ps: Kata Mas Jody, ia akan menayangkan video tersebut di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 13 Juli 2017. Mari menonton!

Keterangan:

  • Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan cerita itu adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
  • Akan tetapi penialian ini nyata, berdasarkan pengamatan penulis setelah menonton film Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody
  • Special thanks to: Kedai Filosofi Kopi, Rio Dewanto dan, seluruh pihak yang terlibat.
  • Tulisan ini adalah bagian pertama yang merupakan permukaannya, bagian kedua telah saya tulis lebih serius serta mendalam dan akan di-publish setelah beberapa hari tayang.

 

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy
Jenis Film: Drama

Produser: Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Penulis: Jenny Jusuf, Irfan Ramly, Angga Dwimas Sasongko

Pemeran: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra

Produksi: Visinema Pictures, 13 Entertainment

 

Review Film Kartini: Perjuangan yang Belum Tuntas

Berbicara tentang film, maka yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah cerita fiksi yang mampu memperluas imaji yang ganas. Akan tetapi akan berbeda hal ketika kita berbicara tentang film biopik dan dokumenter. Keakuratan cerita menjadi poin penting dalam pembuatan film. Sedikit kesalahan saja, akan mampu menimbulkan kontroversi yang patut diperbincangkan. Sebuah tugas besar bagi para pelaku film untuk menyambungkan seni dan realitas yang mutlak ketika memproduksi film biopik.

Tantangan terberat untuk film biopik adalah menentukan kepingan-kepingan cerita yang mampu mengeksplorasi karakter yang diceritakan. Bayangkan betapa sulitnya memilah perjalanan hidup seseorang selama bertahun-tahun dibungkus dalam waktu kurang lebih dua jam melalui audio visual. Hebatnya, Hanung mampu membungkus hal tersebut secara rapi nyaris tanpa ada pita yang kusut.

Kartini (Dian Sastrowardoyo), adalah anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang merupakan seorang bupati Jepara tak lama setelah Kartini lahir. Berbeda status dengan suaminya, Ibu kandung kartini bernama Ngasirah (Christine hakim) adalah seorang perempuan yang tidak berasal dari keluarga bangsawan. Pada masa itu, terdapat aturan yang menharuskan seorang bupati harus beristrikan perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan untuk mengangkat derajat Sosroningrat agar diangkat menjadi bupati. Aturan tersebut membuat Sosroningrat terpaksa menikahi Moeryam (Djenar Maesa Ayu) yang memiliki keturunan ningrat.

Pada saat itu juga, hanya ningrat yang boleh berpendidikan tinggi. Wanita tidak diberikan kesempatan sama sekali bersekolah ke jenjang yang tinggi. Wanita Jawa pada masa itu hanya menunggu untuk dinikahi seorang pria. Bahkan Ibu kandungnya menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri dan dianggap layaknya seorang pembantu. Tak ada yang mampu melawan tradisi.

Hidup Kartini didedikasikan untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang terutama tentang pendidikan, tidak peduli jenis kelamin, ataupun berasal dari kalangan ningrat atau bukan. Bersama kedua saudarinya, Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa), Kartini mendirikan sekolah untuk kalangan rakyat yang bukan ningrat di Jepara dan sekitarnya.

Begitu banyaknya hal yang bisa diangkat dalam cerita sesosok Kartini. Hanung Bramantyo pun menggunakan pemeran yang memperkuat jalannya cerita seperti Kartono (Reza Rahadian) , Slamet Sosroningrat (Denny Sumargo), dan Soelastri (Ardinia Wirasti) yang ketiganya memiliki silsilah keluarga Kartini.

Durasi 2 jam di film ini terasa efektif dalam bercerita. Kebanyakan film biopik terjebak dalam kecenderungan untuk menimbulkan begitu banyak narasi sepanjang film diputar. Hal tersebut tak tampak dalam film Kartini yang diproduseri oleh Robert Ronny ini. Dibuktikan dengan tak adanya shot-shot pendek yang bisa membuat penonton bingung karena menerima begitu banyak dan terlalu cepat menerima informasi, semuanya dibiarkan mengalir. Meskipun terdapat beberapa bagian di awal skenario yang terasa terlalu cepat, tapi hal tersebut mampu ditutupi oleh bagian setelahnya.

Saat mengetahui film ini akan diperankan oleh sejumlah nama besar, tentu akan muncul ekspektasi tinggi terhadap para pemeran. Alhasil, ekspektasi tersebut mampu dijawab oleh sederet cast yang berperan sangat apik dan memiliki chemistry yang kuat dalam film ini. Kedalaman karakter dan adegan menjadi kekuatan yang mampu memikat penonton untuk ikut merasakan kesakitan dan kegelisahan tiap karakter. Film Kartini tak hanya dalam tapi juga sangat pas dalam mengatur kelebaran dalam bercerita.

Cara Hanung dalam menggambarkan sesuatu dalam film Kartini pun bisa dikatakan cukup unik. Seperti pada scene dimana Kartini dan kedua adiknya sedang membaca, kita langsung diajak bertamasya dalam perjalanan aksara. Hanung membawa kita pada suatu cara bercerita yang seolah nyata. Penempatan midpoint dalam skenario film ini pun terasa efektif, dimana Kartini bertanya kepada seorang Kyai “Apakah membaca hanya untuk kaum laki-laki?”. Adegan ini mengingatkan saya pada film Perempuan Berkalung Sorban, yang juga distruadarai Hanung. Dimana kedua film tersebut memiliki pesan yang mirip yaitu pentingnya membaca bagi kaum hawa, hanya saja pendekatannya berbeda.

 

Sosok Kartini saat ini

Hal yang patut diapresiasi dalam film ini adalah riset dan eksplorasi Hanung Bramantyo terhadap sosok Kartini. Banyak hal baru yang saya ketahui tentang Kartini setelah menonton film ini. Film Kartini mampu memperluas perspektif kita dalam memahami Kartini. Saat saya membaca sekilas buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja, saya seolah diajak ikut merasakan pemikiran dan perjuangan sosok Kartini . Hanung kembali membawa saya ke dalam perasaan yang sama, merasakan perjuangan tersebut melalui gambar bergerak dan tata suara yang sangat nyaman untuk dinikmati.

Kartini berfokus pada dua hal, yaitu tradisi dan pendidikan. Film ini menceritakan bagaimana beratnya menjalani kehidupan tanpa diberikan kebebasan memilih dan ketidakadilan. Pemikiran-pemikiran Kartini yang kita kenal melalui tulisannya, memiliki perhatian khusus terhadap tradisi dan pendidikan pada masa itu. Pendidikan adalah gerbang pertama untuk menghilangkan gelap. Kartini adalah salah simbol perlawanan diantara “penerimaan” yang dilakukan masyarakat Jawa saat itu. Melalui penggambaran tiap adegannya, kegelisahan kartini masih terlihat nyata di Indonesia hingga saat ini. Perjuangan Kartini masih belum tuntas.

Kartini 8,5/10

KARTINI

Produksi: Legacy Pictures in Association Screenplay Films

Produser: Robert Ronny

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Skenario: Bagus Bramanthi dan Hanung Bramantyo

DOP: Faozan Rizal

Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, dan Reza Rahaddian

Tayang 19 April 2017

 kartini-poster

Review Film The Guys: Kejenuhan yang Terus Diulang

SPOILER ALERT!

Saat mengetahui Raditya Dika akan kembali merilis film terbarunya berjudul The Guys, timbul beberapa asumsi yang membuat saya berharap banyak terhadap karya terbarunya. Setelah Raditya Dika bereksperimen melalui film Hangout, dan bisa dikatakan sukses dari segi kuantitas penonton. Pikir saya akan timbul kembali sebuah film diluar zona nyamannya sebagai seorang “jomblo tragis”. Apalagi saat pertama dirilis posternya, tak menandakan unsur tersebut. Tetapi setelah trailer film tersebut rilis, muncul prasangka yang kurang enak.

Alfi (Raditya Dika), seorang karyawan kantoran yang jenuh terhadap pekerjaannya, mencoba keluar dari zona nyamannya dan berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang bos. Kejenuhan tersebut diperparah dengan keadaan dirinya yang belum memiliki pasangan cukup lama. Beruntungnya Alfi memilki beberapa rekan kantor yang tinggal bersamanya yang selalu mendukung satu sama lain.

Hingga pada suatu hari, Alfi berhasil dekat dengan Almira (Pevita Pearce). Putri dari bos kantornya sendiri yang tekenal galak. Ayahnya Almira ternyata memiliki perasaan khusus dengan Ibunya Alfi yang sama-sama telah ditinggalkan oleh pasangannya masing-masing. Alfi pun berada di posisi bimbang antara memperjuangkan Almira atau merelakannya demi kebahagian Ibunya.

Skenario yang dibuat oleh Raditya Dika kali ini mengalir cukup baik pada babak pertama hingga babak kedua film berjalan. Jokes yang diberikan terkesan natural dan terus memberikan punchline yang selalu mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak sepanjang adegan. Meskipun banyak dihiasi oleh wajah baru, para pemain cukup memberikan performa yang cukup memuaskan. Terutama Sukun (Pongsiree Bunluewon) yang memerankan karakternya secara konsisten dan kuat sepanjang film, sehingga membuat penonton penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sukun setelah ini.

Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama. Semakin mendekati klimaks, The Guys malah kehilangan arah dan membosankan. Hal ini dikarenakan alur cerita yang lamban di babak akhir cerita. Hampir tak ada pengembangan cerita dan karakter sehingga membuat konflik tak cukup kuat dan mulai flat. Ditambah lagi dengan ending cerita tanpa penyelesasian konflik cerita sama sekali. Hal ini menarik kembali angapan saya yang sempat mengatakan ini film terbaik Raditya Dika.

Cover yang berbeda

Jika film Raditya Dika diibaratkan dengan sebuah kado, The Guys memiliki bungkus yang berbeda tapi isinya lagi-lagi sama. Seorang lelaki dengan titel “Jomblo tragis” yang memilki permasalahan dengan hubungan asmaranya. Hanya saja kali ini dibungkus dengan kisah ala karyawan kantor, dan dipercantik dengan pita betemakan keluarga. Hal ini membuat filmThe Guys tak lebih spesial dari karya-karya Raditya Dika sebelumnya. Apalagi hampir tak ada peningkatan secara teknis seperti sinematografi dan detail lainnya. Film ini terkesan terburu-buru. Bahkan jika saya tidak salah informasi, The Guys telah mendapatkan jadwal rilis sebelum filmnya selesai produksi, bahkan dengan waktu yang mepet. Jika Alfi yang diceritakan dalam film ini ingin keluar dari comfort zone, alangkah lebih baiknya Raditya Dika juga mampu demikian dalam kehidupan nyatanya. Sehingga, tak hanya mengubah kulit dan terus menerus memberikan pola yang mirip dalam film yang diarahkannya.

Relevansi dan rasionalitas dalam kehidupan nyata juga menjadi permasalahan dalam film ini. Tidak salah jika seseorang mencoba keluar dari zona nyamannya dan berani untuk resign dari tempat kerja. Hal yang cukup aneh ketika seseorang keluar dari zona nyaman, tanpa persiapan dan arah tujuan yang jelas kedepannya. Ditambah lagi dengan kehidupan praktis yang dirasakan Alfi setelah resign dengan langsung mendapatkan suatu keberhasilan tanpa diperkuat penggambaran usaha yang ia lakukan untuk menunjukkan jati dirinya. Hal inilah yang saya katakan sebelumnya, konflik cerita tak cukup kuat.

Meskipun begitu, film ini akan mampu menghibur untuk menertawakan kehidupan seorang karyawan. Kuatnya chemistry yang terjalin di persahabatan geng ”The Guys” ini akan semakin mengingatkan keseruan dari lingkungan kerja. Film ini tetap layak anda saksikan untuk merasakan atmosfer keseruan  cerita tersebut. Selamat menonton!

THE GUYS 6/10

Jenis Film : Drama

Produser : Sunil Soraya

Sutradara : Raditya Dika

Penulis : Raditya Dika

Produksi : Soraya Intercine Films

Pemeran: Raditya Dika, Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Pongsire Bunluewon.

148964775232770_300x430

 

Reuni Pagi Hari

Aneh, aku tak pernah bangun sepagi ini

langit masih saja menari

sambil membaca puisi dalam kesenyapan

seolah menghapus alunan musik disko semalam

 

Alangkah beruntungnya diriku

mampu menatapmu sejak pagi

sambil bercerita ironi di atas bumi

kau mantap dengan poni kecilmu

aku siap dengan potongan rambut baru

 

Riuh sekitar tak lagi kurasakan

tatapan itu hangat

mengalahkan dua minuman di atas meja

Tak ada yang menggangu

hanya ada kepingan diatas romantika

 

Sampai kita saling tahu

bahwa akan ada satu adegan

yang datang bergandengan

 

Aku terus mengingat

kau mantap dengan poni kecilmu

aku siap dengan potongan rambut baru

ke mana pun,  Aku akan terus mengingatnya