Review Film Kartini: Perjuangan yang Belum Tuntas

Berbicara tentang film, maka yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah cerita fiksi yang mampu memperluas imaji yang ganas. Akan tetapi akan berbeda hal ketika kita berbicara tentang film biopik dan dokumenter. Keakuratan cerita menjadi poin penting dalam pembuatan film. Sedikit kesalahan saja, akan mampu menimbulkan kontroversi yang patut diperbincangkan. Sebuah tugas besar bagi para pelaku film untuk menyambungkan seni dan realitas yang mutlak ketika memproduksi film biopik.

Tantangan terberat untuk film biopik adalah menentukan kepingan-kepingan cerita yang mampu mengeksplorasi karakter yang diceritakan. Bayangkan betapa sulitnya memilah perjalanan hidup seseorang selama bertahun-tahun dibungkus dalam waktu kurang lebih dua jam melalui audio visual. Hebatnya, Hanung mampu membungkus hal tersebut secara rapi nyaris tanpa ada pita yang kusut.

Kartini (Dian Sastrowardoyo), adalah anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang merupakan seorang bupati Jepara tak lama setelah Kartini lahir. Berbeda status dengan suaminya, Ibu kandung kartini bernama Ngasirah (Christine hakim) adalah seorang perempuan yang tidak berasal dari keluarga bangsawan. Pada masa itu, terdapat aturan yang menharuskan seorang bupati harus beristrikan perempuan yang berasal dari kalangan bangsawan untuk mengangkat derajat Sosroningrat agar diangkat menjadi bupati. Aturan tersebut membuat Sosroningrat terpaksa menikahi Moeryam (Djenar Maesa Ayu) yang memiliki keturunan ningrat.

Pada saat itu juga, hanya ningrat yang boleh berpendidikan tinggi. Wanita tidak diberikan kesempatan sama sekali bersekolah ke jenjang yang tinggi. Wanita Jawa pada masa itu hanya menunggu untuk dinikahi seorang pria. Bahkan Ibu kandungnya menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri dan dianggap layaknya seorang pembantu. Tak ada yang mampu melawan tradisi.

Hidup Kartini didedikasikan untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang terutama tentang pendidikan, tidak peduli jenis kelamin, ataupun berasal dari kalangan ningrat atau bukan. Bersama kedua saudarinya, Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa), Kartini mendirikan sekolah untuk kalangan rakyat yang bukan ningrat di Jepara dan sekitarnya.

Begitu banyaknya hal yang bisa diangkat dalam cerita sesosok Kartini. Hanung Bramantyo pun menggunakan pemeran yang memperkuat jalannya cerita seperti Kartono (Reza Rahadian) , Slamet Sosroningrat (Denny Sumargo), dan Soelastri (Ardinia Wirasti) yang ketiganya memiliki silsilah keluarga Kartini.

Durasi 2 jam di film ini terasa efektif dalam bercerita. Kebanyakan film biopik terjebak dalam kecenderungan untuk menimbulkan begitu banyak narasi sepanjang film diputar. Hal tersebut tak tampak dalam film Kartini yang diproduseri oleh Robert Ronny ini. Dibuktikan dengan tak adanya shot-shot pendek yang bisa membuat penonton bingung karena menerima begitu banyak dan terlalu cepat menerima informasi, semuanya dibiarkan mengalir. Meskipun terdapat beberapa bagian di awal skenario yang terasa terlalu cepat, tapi hal tersebut mampu ditutupi oleh bagian setelahnya.

Saat mengetahui film ini akan diperankan oleh sejumlah nama besar, tentu akan muncul ekspektasi tinggi terhadap para pemeran. Alhasil, ekspektasi tersebut mampu dijawab oleh sederet cast yang berperan sangat apik dan memiliki chemistry yang kuat dalam film ini. Kedalaman karakter dan adegan menjadi kekuatan yang mampu memikat penonton untuk ikut merasakan kesakitan dan kegelisahan tiap karakter. Film Kartini tak hanya dalam tapi juga sangat pas dalam mengatur kelebaran dalam bercerita.

Cara Hanung dalam menggambarkan sesuatu dalam film Kartini pun bisa dikatakan cukup unik. Seperti pada scene dimana Kartini dan kedua adiknya sedang membaca, kita langsung diajak bertamasya dalam perjalanan aksara. Hanung membawa kita pada suatu cara bercerita yang seolah nyata. Penempatan midpoint dalam skenario film ini pun terasa efektif, dimana Kartini bertanya kepada seorang Kyai “Apakah membaca hanya untuk kaum laki-laki?”. Adegan ini mengingatkan saya pada film Perempuan Berkalung Sorban, yang juga distruadarai Hanung. Dimana kedua film tersebut memiliki pesan yang mirip yaitu pentingnya membaca bagi kaum hawa, hanya saja pendekatannya berbeda.

 

Sosok Kartini saat ini

Hal yang patut diapresiasi dalam film ini adalah riset dan eksplorasi Hanung Bramantyo terhadap sosok Kartini. Banyak hal baru yang saya ketahui tentang Kartini setelah menonton film ini. Film Kartini mampu memperluas perspektif kita dalam memahami Kartini. Saat saya membaca sekilas buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku Kartini Saja, saya seolah diajak ikut merasakan pemikiran dan perjuangan sosok Kartini . Hanung kembali membawa saya ke dalam perasaan yang sama, merasakan perjuangan tersebut melalui gambar bergerak dan tata suara yang sangat nyaman untuk dinikmati.

Kartini berfokus pada dua hal, yaitu tradisi dan pendidikan. Film ini menceritakan bagaimana beratnya menjalani kehidupan tanpa diberikan kebebasan memilih dan ketidakadilan. Pemikiran-pemikiran Kartini yang kita kenal melalui tulisannya, memiliki perhatian khusus terhadap tradisi dan pendidikan pada masa itu. Pendidikan adalah gerbang pertama untuk menghilangkan gelap. Kartini adalah salah simbol perlawanan diantara “penerimaan” yang dilakukan masyarakat Jawa saat itu. Melalui penggambaran tiap adegannya, kegelisahan kartini masih terlihat nyata di Indonesia hingga saat ini. Perjuangan Kartini masih belum tuntas.

Kartini 8,5/10

KARTINI

Produksi: Legacy Pictures in Association Screenplay Films

Produser: Robert Ronny

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Skenario: Bagus Bramanthi dan Hanung Bramantyo

DOP: Faozan Rizal

Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, dan Reza Rahaddian

Tayang 19 April 2017

 kartini-poster

Review Film The Guys: Kejenuhan yang Terus Diulang

SPOILER ALERT!

Saat mengetahui Raditya Dika akan kembali merilis film terbarunya berjudul The Guys, timbul beberapa asumsi yang membuat saya berharap banyak terhadap karya terbarunya. Setelah Raditya Dika bereksperimen melalui film Hangout, dan bisa dikatakan sukses dari segi kuantitas penonton. Pikir saya akan timbul kembali sebuah film diluar zona nyamannya sebagai seorang “jomblo tragis”. Apalagi saat pertama dirilis posternya, tak menandakan unsur tersebut. Tetapi setelah trailer film tersebut rilis, muncul prasangka yang kurang enak.

Alfi (Raditya Dika), seorang karyawan kantoran yang jenuh terhadap pekerjaannya, mencoba keluar dari zona nyamannya dan berharap suatu saat nanti bisa menjadi seorang bos. Kejenuhan tersebut diperparah dengan keadaan dirinya yang belum memiliki pasangan cukup lama. Beruntungnya Alfi memilki beberapa rekan kantor yang tinggal bersamanya yang selalu mendukung satu sama lain.

Hingga pada suatu hari, Alfi berhasil dekat dengan Almira (Pevita Pearce). Putri dari bos kantornya sendiri yang tekenal galak. Ayahnya Almira ternyata memiliki perasaan khusus dengan Ibunya Alfi yang sama-sama telah ditinggalkan oleh pasangannya masing-masing. Alfi pun berada di posisi bimbang antara memperjuangkan Almira atau merelakannya demi kebahagian Ibunya.

Skenario yang dibuat oleh Raditya Dika kali ini mengalir cukup baik pada babak pertama hingga babak kedua film berjalan. Jokes yang diberikan terkesan natural dan terus memberikan punchline yang selalu mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak sepanjang adegan. Meskipun banyak dihiasi oleh wajah baru, para pemain cukup memberikan performa yang cukup memuaskan. Terutama Sukun (Pongsiree Bunluewon) yang memerankan karakternya secara konsisten dan kuat sepanjang film, sehingga membuat penonton penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sukun setelah ini.

Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama. Semakin mendekati klimaks, The Guys malah kehilangan arah dan membosankan. Hal ini dikarenakan alur cerita yang lamban di babak akhir cerita. Hampir tak ada pengembangan cerita dan karakter sehingga membuat konflik tak cukup kuat dan mulai flat. Ditambah lagi dengan ending cerita tanpa penyelesasian konflik cerita sama sekali. Hal ini menarik kembali angapan saya yang sempat mengatakan ini film terbaik Raditya Dika.

Cover yang berbeda

Jika film Raditya Dika diibaratkan dengan sebuah kado, The Guys memiliki bungkus yang berbeda tapi isinya lagi-lagi sama. Seorang lelaki dengan titel “Jomblo tragis” yang memilki permasalahan dengan hubungan asmaranya. Hanya saja kali ini dibungkus dengan kisah ala karyawan kantor, dan dipercantik dengan pita betemakan keluarga. Hal ini membuat filmThe Guys tak lebih spesial dari karya-karya Raditya Dika sebelumnya. Apalagi hampir tak ada peningkatan secara teknis seperti sinematografi dan detail lainnya. Film ini terkesan terburu-buru. Bahkan jika saya tidak salah informasi, The Guys telah mendapatkan jadwal rilis sebelum filmnya selesai produksi, bahkan dengan waktu yang mepet. Jika Alfi yang diceritakan dalam film ini ingin keluar dari comfort zone, alangkah lebih baiknya Raditya Dika juga mampu demikian dalam kehidupan nyatanya. Sehingga, tak hanya mengubah kulit dan terus menerus memberikan pola yang mirip dalam film yang diarahkannya.

Relevansi dan rasionalitas dalam kehidupan nyata juga menjadi permasalahan dalam film ini. Tidak salah jika seseorang mencoba keluar dari zona nyamannya dan berani untuk resign dari tempat kerja. Hal yang cukup aneh ketika seseorang keluar dari zona nyaman, tanpa persiapan dan arah tujuan yang jelas kedepannya. Ditambah lagi dengan kehidupan praktis yang dirasakan Alfi setelah resign dengan langsung mendapatkan suatu keberhasilan tanpa diperkuat penggambaran usaha yang ia lakukan untuk menunjukkan jati dirinya. Hal inilah yang saya katakan sebelumnya, konflik cerita tak cukup kuat.

Meskipun begitu, film ini akan mampu menghibur untuk menertawakan kehidupan seorang karyawan. Kuatnya chemistry yang terjalin di persahabatan geng ”The Guys” ini akan semakin mengingatkan keseruan dari lingkungan kerja. Film ini tetap layak anda saksikan untuk merasakan atmosfer keseruan  cerita tersebut. Selamat menonton!

THE GUYS 6/10

Jenis Film : Drama

Produser : Sunil Soraya

Sutradara : Raditya Dika

Penulis : Raditya Dika

Produksi : Soraya Intercine Films

Pemeran: Raditya Dika, Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Pongsire Bunluewon.

148964775232770_300x430

 

Review Film: “Surga yang Tak Dirindukan 2” yang Tak Kurindukan

 

Judul tulisan ini mewakilkan perasaan saya setelah menonton film Surga yang Tak Dirindukan 2. Rindu ini terasa tak terbalaskan. Ketika mengetahui film Surga yang Tak Dirindukan 2 dijawalkan mundur dari bulan Desember tahun lalu, Manoj Punjabi sempat mengatakan melalui akun media sosialnya hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas Surga yang Tak Dirindukan 2 . Wajar saja jika penonton banyak yang berekspektasi terhadap film ini.

Nyatanya rindu itu tak sepenuhnya terbalaskan. Cerita cinta segiempat antara Pras (Fedi Nuril), Arini (Laudya Cyinthia Bella), Meirose (Raline Shah), dan Dr. Syarif (Reza rahadian) menjadi konflik utama dalam film ini. Cerita dimulai dari Arini yang sukses menjadi penulis terkenal yang membawanya harus ke Budapest untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.  Secara tak sengaja Arini bertemu dengan Meirose di salah satu Masjid di sana. Ternyata Meirose telah memiliki kehidupan baru di Budapest, mulai dari pekerjaan hingga cinta. Syarif yang menganggumi sosok Meirose, harus rela bersabar menunggu kepastian jawaban dari masa lalu Meirose. Konflik cerita dimulai ketika Arini jatuh sakit di Budapest tanpa kehadiran Pras di sana. Semua cerita ini telah tergambar jelas di Trailer yang dirilis oleh MD Pictures.

Setelah menonton trailer film ini, mungkin telah banyak yang bisa menebak alur ceritanya. Film yang sebelumnya disutradarai oleh Kuntz Agus, kali ini dipercayakan kepada salah satu sutradara terbaik Indonesia yaitu Hanung Bramantyo. Tentu hal ini semakin meningkatkan ekspektasi penonton terhadap Surga yang Tak Dirindukan 2. Secara teknis, film ini menjawab ekspektasi tersebut. Dari segi pengambilan dan penyuntingan gambar, bisa dikatakan berhasil membuat kita terkagum-kagum dalam keindahan Kota Budapest. Beberapa momen pun terasa lebih dramatis dan indah berkat hal ini. Ditambah lagi dengan soundtrack yang dinyanyikan oleh Krisdayanti yang semakin menambah perasaan haru. Penempatan soundtrack di film ini selalu ada disaat yang tepat.

Hanya saja, dari segi cerita bisa dikatakan tidak ada peningkatan. Bahkan konflik di film ini terasa sangat mengada-ada alias lebay. Sosok Arini digambarkan sebagai wanita yang sangat sabar dan kuat. Kalau kata orang sabar itu ada batasnya, tapi mungkin bagi Arini tidak. Ia terlalu kuat menghadapi permasalahan kehidupannya, sampai-sampai ia tak mau mengobati dirinya, alasannya pun cukup tak masuk akal “Tak ingin melawan takdir Allah”. Bukan kah justru kita tak boleh menyerah untuk menyembuhkan penyakit untuk tetap hidup? Entahlah, mungkin saya yang salah. Saya jadi rindu ketika Arini  marah besar kepada Pras ketika mengetahui Ia menikah lagi tanpa sepengetahuannya. Itu terasa lebih natural dan manusiawi.

Dari segi akting pemain, seperti biasa Reza Rahadian tak pernah mengecewakan. Perannya sebagai Dr. Syarif berhasil menambah ketegangan konflik. Justru Arini terasa kurang greget dibandingkan peran yang ia mainkan di film-film sebelumnya. Pras dan Meirose pun terasa datar. Pemeran yang patut diapresiasi justru Nadia (Sandrinna Michelle Skornicki) yang menjadi penghubung cerita di film iniserta si Tour Guide Arini yang sesekali mengundang tawa.

Secara keseluruhan, Surga yang Tak Dirindukan 2 tidaklah buruk. Hanya saja ekspektasi saya terhadap film ini memang cukup tinggi. Padahal ketika mengetahui Hanung Bramantyo yang mengambil alih kursi sutradara, saya mengharapkan akan ada kembali film religi seperti Tanda Tanya dan Hijab. Sepertinya beberapa penonton Indonesia juga sudah mulai jenuh dengan film religi yang hanya melibatkan seputar cinta dan poligami. Surga yang Tak Dirindukan 2 tidak lagi kurindukan dan akan ada dalam kenangan.

 

Rating: 6,5/10

Jenis Film : Drama-Religi
Produser : Manoj Punjabi
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Alim Sudio, Hanung Bramantyo, Manoj Punjabi
Produksi : MD Pictures

surga-yang-tak-dirindukan-2-poster-408x600

 

Review Film: Jangan Cek Toko Sebelah

               Sukses menyutradarai film ngenest, Ernest Prakasa kembali memperlihatkan kelihaian dalam perannya sebagai sutradara, penulis naskah, dan pemeran dalam film Cek Toko Sebelah. Film ini menjadi salah satu daftar film yang wajib ditonton di penghujung tahun 2016, dan saya menjamin anda akan keluar dari bioskop dengan perasaan haru sekaligus tawa. Film ini membuktikan Ernest layak mendapatkaan penghargaan Festival Film Bandung 2016 sebagai penulis skenario adaptasi terpuji dan Piala Maya 2016 dengan kategori yang sama ditambah dengan penghargaan khusus sebagai debut sutradara berbakat.

            Cek Toko Sebelah memberitahukan kita bahwa “Harta yang paling berharga adalah keluarga”.  Semua orang tahu akan hal itu, tapi Ernest Prakasa mampu menyajikan hal tersebut melalui sebuah drama dan tawa yang sangat berkualitas. Yohan (Dion Wiyoko), Erwin (Ernest Prakasa), dan Koh Afuk (Chew Kin Wah) adalah kunci utama dari film ini. Hubungan emosional keluarga yang begitu kuat, mampu membuat penonton selalu geregatan  dalam setiap adegannya. Film yang menceritakan perjalanan seorang ayah yang ingin mewariskan toko kelontong kepada salah satu anaknya dan pilihan tersebut jatuh kepada putra bungsunya, Erwin. Konflik cerita telah diperlihatkan dari awal film diputar, dimana Yohan ingin meneruskan toko tersebut. Akan tetapi, keinginan anak sulung tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang ayah yang beranggapan bahwa ia tak mampu menjalankan toko tersebut karena kehidupan Yohan yang sebelumnya berantakan.

            Film ini terasa sangat dekat dengan penonton di Indonesia. Tak jarang kita temukan toko-toko kelontong di sekitar kompleks rumah, perselisihan antara orang tua dan anak, hubungan saudara yang tidak akur, keinginan untuk menyenangi hati orang tua, merasa ada saudara yang lebih disayang, hingga penyesalan yang dilakukan oleh anak kepada orang tuanya. Segala keresahan Ernest Prakasa seolah menjadi keresahan semua orang. Film ini tampak begitu natural dan nyata, dan ini sangat bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Bahkan apa yang diceritakan dalam film ini hampir mirip dengan kondisi di kompleks rumah saya. Dimana ada dua toko kelontong dari etnis Tionghoa yang bersebalahan dan kedua toko tersebut pernah ingin dibeli seseorang untuk membangun sebuah toko baru.

            Seperti film debutnya sebagai sutradara, alur cerita berjalan sangat mengalir, tertatata rapi, dan terus memberikan punchline yang membuat penonton tak merasa bosan ataupun jenuh sepanjang film. Terkadang saya sering merasa too much information dalam sebuah scene film, akan tetapi hal ini tak saya rasakan sama sekali dalam film ini. Plot twist terus diberikan secara halus dan natural. Hanya saja drama dalam film ini sering tertutupi dengan terlalu banyaknya komedi yang disuguhi, sehingga para penonton merasa emosinya terombang-ambing. Tapi hal tersebut tidaklah begitu buruk, justru hal ini menjadi keunikan dari film Cek Toko Sebelah, serta mempertegas karakter seorang Ernest Prakasa sebagai  sutradara sekaligus penulis skenario dalam memproduksi film.

            Selain dari segi cerita, hal yang patut diapresiasi lebih adalah komposisi dan karakter pemeran. Terutama kepada Dion Wiyoko serta Chew Kin Wah patut diberikan dua jempol yang mampu memberikan rasa haru kepada penonton. Mereka berdua adalah kunci utama dalam menyeimbangkan porsi drama dan komedi dalam film ini. Karena tanpa mereka berdua ditambah  dengan seorang penenang yaitu Ayu (Ardinia Wirasti), film ini akan menjadi pure film komedi dari para komika. Penempatan humor yang sangat pas, ditambah dengan karakter para pemain yang konsisten membuat penonton tak berhenti tertawa sepanjang film diputar. Selain itu, musik dan lagu dalam film ini sangat nyaman didengar serta timing yang selalu pas mampu memperdalam emosi penonton. Dan tak lupa silahkan memperhatikan detail properti dan wardrobe, dijamin akan menggelitik anda.

          Well, film ini telah memberikan pembuktian bahwa Ernest Prakasa telah naik level baik sebagai sutradara, penulis naskah, maupun aktor dari film sebelumnya. Karakter Ernest sebagai sineas pun semakin menguat melalui film ini. Tidak berlebihan jika saya beranggapan Ernest Prakasa mampu diperhitungkan sebagai sutradara atau penulis cerita terbaik untuk ajang penghargaan film tahun ini. Jangan cek toko sebelah, lebih baik anda berkunjung ke toko Koh Afuk yang sudah jelas akan memberikan pesan moral serta rasa haru dan tawa dalam kantong belanjaan yang bisa anda bawa pulang. Selamat menonton!

Rating : 8,5/10

Jenis Film : Drama, Comedy
Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Sutradara : Ernest Prakasa
Penulis : Ernest Prakasa
Produksi : Starvision

Casts : Ernest Prakasa, Chew Kin Wah, dan Dion Wiyoko

zrzm0lag

Headshot: Darah dan Drama

Nilai : 8/10

Sebelum menonton Headshot, saya teringat kepada dua film aksi laga yang sempat populer di Indonesia yaitu The Raid: Redemption dan The Raid: Berandal dan beranggapan film ini akan mirip dengan kedua film tersebut baik dari segi cerita maupun teknis film. Ternyata pandangan itu berubah setelah dua jam duduk menonton film ini. Berbeda dari film aksi laga pada umumnya, film ini diwarnai dengan nuansa romantik dan diperkaya sedikit humor di beberapa bagian.

Film dibuka dengan adegan saling tembak antara sipir penjara dan tahanan hingga terjadi banjir darah. Scene pembuka benar-benar dahsyat, keren dan langsung menggambarkan  cerita film. Di dalam kepala penonton akan langsung terbayang: penjahat dan polisi akan saling berhadapan secara tragis dan keren. Sampai saya menonton habis, ternyata cerita film ini lebih menarik dan kompleks.

Sutradara Mo Brothers memberikan apa yang telah menjadi karakter film mereka: darah dan drama. Romantika antara Ishmael (Iko Uwais) dan Ailin (Chelsea Islan) adalah kunci utama dari perjalanan panjang film ini. Selama dua jam disuguhi serangkaian adegan saling bunuh yang brutal dengan menggunakan berbagai senjata tembak hingga tangan kosong. Bahkan orang tua hingga anak kecil, yang tidak terlibat langsung dengan permasalahan langsung tidak dikecualikan. Kelompok penjahat membabi buta semua tanpa ampun.

Perjalanan Ishmael yang kehilangan ingatan, meyakinkan para penonton film ini tak hanya sekedar aksi laga. Akan tetapi sebuah pencarian jati diri. “Siapa aku sebenarnya?” berkali-kali diucapkan Ishmael. Menghadapi ingatannya yang perlahan teringat dalam setiap adegan, ia semakin dekat dengan kepribadian serta siapa Ishmael sebenarnya. Lee (Sunny Pung), Rika (Julie Estelle) dan, anggota kelompok penjahat lain membuat Ishmael terus dihantui rasa penasaran.

Alur cerita sangat terstruktur rapi membuat film ini sangat nikmat ditonton. Akan tetapi, disisi lain cerita sangat kaku dan gampang ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Motif dan polanya sama: bercerita lalu bertengkar. Maka, pada saat adegan berkelahi seringkali dilakukan sambil mengobrol. Inilah yang membuat saya dapat menegaskan bahwa ini adalah film drama-action. Tak hanya itu, beberapa adegan dan dialog sengaja dibuat untuk membuat penonton tertawa. Seperti ketika adegan parang yang tertancap ke tembok atap ketika mau diayunkan. Kesalahan-kesalahan itu sangat wajar terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga membuat cerita ini semakin dekat kepada penonton.

Pengambilan gambar yang bergerak seirama dengan perkelahian memberikan efek kepada penonton seolah berada dalam adegan tersebut. Tata suara yang mendukung dan efek visual yang rapi menambah dramatas film ini. Hal ini menegaskan penghargaan efek visual terbaik dan tata suara terbaik pada Festival Film Indonesia 2016 yang diberikan kepada film Headshot tidak perlu diragukan.

Hal yang tak kalah menarik adalah bagaimana gerakan-gerakan pencak silat banyak ditampilkan. Meskipun buka pure silat, akan tetapi bisa dikatakan silat merupakan salah satu ikonik dari film ini. Kita patut mengapresiasi koreografer serta para aktor yang mempertunjukannya. Khususnya, pada Ishmael yang bermain sangat ciamik dalam film ini.

Detil

Film ini sangat memperhatikan detil. Baik dari segi pengambilan gambar, tata suara, efek visual, make up, artistik hingga acting para pemeran diatur dengan sangat rapi. Terutama pada saat perkelahian akan terasa bahwa film ini dapat membuat kita sulit bernafas. Darah yang keluar, luka lebam, serta peluru yang ditembak terasa nyata. Cerita yang dibawa pun dapat dikatakan baru untuk film sejenis.

Sayangnya, film ini terkesan tidak realistik. Ishmael yang telah ditembak kepalanya, dipatahkan kaki dan tangannya, seluruh badannya hampir terkena tembakan, hingga wajahnya yang telah babak belur masih tetap bisa bertarung sama seperti saat kondisinya normal. Semua lawan dapat dikalahkan oleh satu orang. Hal ini membuat saya tertawa geli dan menjadikannya sebagai hiburan semata.

Film Mo Brothers kali ini dapat saya katakan sebagai film aksi laga terbaik Indonesia tahun 2016. Telepas dari segala kekurangannya, Headshot memberikan warna baru dalam perfilman Indonesia. Sangat manis untuk menjadi penutup film aksi laga Indonesia pada tahun 2016. Selamat menonton!

HEADSHOT

Jenis Film : Drama, Action

Produser : Mike Wiluan, Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo, Shinjiro Nishimura

Sutradara : Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel

Penulis : Timo Tjahjanto

Pemeran : Iko Uwais, Sunny Pang, Chelsea Islan, Julie Estelle

Produksi : Screenplay Infinite Films

mv5bmji2mzu2odq4m15bml5banbnxkftztgwotgxmtu5ote-_v1_sy1000_cr006741000_al_