Reuni Pagi Hari

Aneh, aku tak pernah bangun sepagi ini

langit masih saja menari

sambil membaca puisi dalam kesenyapan

seolah menghapus alunan musik disko semalam

 

Alangkah beruntungnya diriku

mampu menatapmu sejak pagi

sambil bercerita ironi di atas bumi

kau mantap dengan poni kecilmu

aku siap dengan potongan rambut baru

 

Riuh sekitar tak lagi kurasakan

tatapan itu hangat

mengalahkan dua minuman di atas meja

Tak ada yang menggangu

hanya ada kepingan diatas romantika

 

Sampai kita saling tahu

bahwa akan ada satu adegan

yang datang bergandengan

 

Aku terus mengingat

kau mantap dengan poni kecilmu

aku siap dengan potongan rambut baru

ke mana pun,  Aku akan terus mengingatnya

 

 

 

Menatap Saja Tidak, Apalagi Menetap

Aku tidak sungguh-sungguh melihatmu

Menatap saja tidak

Apalagi menetap

Tapi masih saja kau berikan senyuman itu

Satu kali kau tersenyum, rasanya biasa saja

Dua kali, Senyumku tertahan

Tiga kali, sampai aku tak mau melihat senyummu lagi

 

Dalam diriku terdapat kepingan yang tak bisa kau singgahi

Kau seolah angka”1″ dalam angka biner

Seribu puisimu bahkan dilantunkan musisi favoritku

Kehidupanmu adalah rengekan masa kecilku

 

Suatu hari, kau akan tahu kenapa senyum itu terbalas

Suatu hari, kau akan tahu kenapa tak satu puisi pun akan ku balas

Sampai dimana kau akan tahu, kenapa tak setetes pun keringat yang ingin ku korbankan kepadamu

Ya, sampai hari itu. Kau akan menungguku di bawah pohon tempat kita berlindung.

 

Dalam tangisan anakku

Kau baru tahu.

 

Terinspirasi dari cerita rekan kerja

Waktu

Di balik meja makan ini ada pesan yang tak sempat kau ucapkan

kepada langit, laut, udara, dan puisi yang sempat kau dengungkan.

kau bergumam seolah ini yang terakhir

padahal masih ada ribuan hari yang sanggup kau lewati kepada bulan.

 

Mereka mengiringi apa yang tak isi, mendengarkan apa

yang tak patut mereka dengar

Bicara tentang hitam sangat mudah, tetapi membayangkannya

bagai bunga yang ingin dipetik di cagar alam

kini jiwa mereka mati dalam tanda tanya besar yang tak sempat ditanyakan

bukan karena tak mau, tapi jiwa mereka dungu

Sudahlah mungkin bukan hari ini.

 

Mereka berjanji akan menyentuh tempat yang sama

Tanpa disadari esok telah berganti

 

 

Sudahlah

Sudahlah, mataku terjun ke sumur belakang rumahmu yang kau banggakan itu.

Berharap kembali dari dasar jurang bekas mayat berserakan

Kilau cahaya yang dirindukan tak lagi muncul ke permukaan

Mengemas kegetiran hati, bekas sayatan belati

 

Dirimu termenung dalam tanya yang tak sempat kau berikan.

Berharap sang kala berdiri tegak di sebelah barat

apakah kau masih mencariku wahai kosmis?

Dalam dirimu tersimpan duka, dalam diriku terbuka makna.

 

Kini diriku mati, entah dari depan ataupun belakang

semuana sama saja. Sama-sama tak pasti.

Sudahlah, diriku habis sudah.

Teras Kota

Malam ini aku bertanya pada teras kota
tentang keramaian yang ia tawarkan
Sepi dalam riuh desakan massa
Menawarkan serpihan ode yang sempat hilang

Senyum ini tak bertutur
Melihat kilau yang lajur
Kita duduk tepat di pinggir sesak
Bergandengan tapi tak bergerak
Kita terlalu menikmati tusukan arktik bumi
Tanpa tahu detik berbunyi

Teduh dan meneduh
Entah kenapa kali ini, teh lebih nikmat daripada kopi.

Kau yang Membenci

Jika kau ingin memburuku,

maka tuturkanlah semu dalam jinggamu.

Ketika itu, tawa yang tak kau dentingkan itu

mengalir dalam rangkulan ujung rambut.

 

Aku tidak tersesat sedikitpun,

salah langkah pun tidak

Kicauan di sana menuntun

goresan tanah yang kau injak

 

Aku tidak membenci

apalagi dendam dalam sunyi

Sedikitpun tak akan membusuk

api menjalar tanpa hiruk pikuk

 

Aku tak akan mati