Menatap Saja Tidak, Apalagi Menetap

Aku tidak sungguh-sungguh melihatmu

Menatap saja tidak

Apalagi menetap

Tapi masih saja kau berikan senyuman itu

Satu kali kau tersenyum, rasanya biasa saja

Dua kali, Senyumku tertahan

Tiga kali, sampai aku tak mau melihat senyummu lagi

 

Dalam diriku terdapat kepingan yang tak bisa kau singgahi

Kau seolah angka”1″ dalam angka biner

Seribu puisimu bahkan dilantunkan musisi favoritku

Kehidupanmu adalah rengekan masa kecilku

 

Suatu hari, kau akan tahu kenapa senyum itu terbalas

Suatu hari, kau akan tahu kenapa tak satu puisi pun akan ku balas

Sampai dimana kau akan tahu, kenapa tak setetes pun keringat yang ingin ku korbankan kepadamu

Ya, sampai hari itu. Kau akan menungguku di bawah pohon tempat kita berlindung.

 

Dalam tangisan anakku

Kau baru tahu.

 

Terinspirasi dari cerita rekan kerja

Advertisements

Sebentar Lagi Kita Akan Bertemu

Sebentar lagi kita akan bertemu.

Mimpiku dan mimpimu akan bergandeng menjadi satu

Entah ikatan ini terlalu kuat atau memang sudah takdirnya.

Sang serigala menuntun langkah hingga kau segera datang.

 

Kau tak perlu lagi berputus asa

Menangis pun tak usah, kini dan nanti sama saja

Seorang anak bertanya kepada Ibu tentang arti mimpinya semalam

Sang Ibu berkata “Hari ini kau akan menemukan jawabannya”.

 

Sebentar lagi kita akan bertemu.

Esok, lusa, dan seterusnya.

.

.

.

Selamat datang dalam kehidupanku.

 

-Dho-

 

Teras Kota

Malam ini aku bertanya pada teras kota
tentang keramaian yang ia tawarkan
Sepi dalam riuh desakan massa
Menawarkan serpihan ode yang sempat hilang

Senyum ini tak bertutur
Melihat kilau yang lajur
Kita duduk tepat di pinggir sesak
Bergandengan tapi tak bergerak
Kita terlalu menikmati tusukan arktik bumi
Tanpa tahu detik berbunyi

Teduh dan meneduh
Entah kenapa kali ini, teh lebih nikmat daripada kopi.

Kau yang Membenci

Jika kau ingin memburuku,

maka tuturkanlah semu dalam jinggamu.

Ketika itu, tawa yang tak kau dentingkan itu

mengalir dalam rangkulan ujung rambut.

 

Aku tidak tersesat sedikitpun,

salah langkah pun tidak

Kicauan di sana menuntun

goresan tanah yang kau injak

 

Aku tidak membenci

apalagi dendam dalam sunyi

Sedikitpun tak akan membusuk

api menjalar tanpa hiruk pikuk

 

Aku tak akan mati

Diskusi dengan Chairil Anwar

Jika Chairil Anwar hidup pada zaman ini

akan kuajak ia berdiskusi bersama tajamnya suara negeri

Menyanyi sebait lagu dalam memori

Bercerita pesona dan penat tanah ibu pertiwi

 

Kau teguk secangkir kopi hitam

menertawakan kelut kesah rumput yang kau injak

melihat kembali bulan yang sedikit tak nampak

terbaring bersinar di bawah meja

 

Kau bertanya: Mana bunyi kebebasan ?

Bukankah itu yang kau harapkan ?

Mana sang pagar bangsa ?

Apakah ia masih sibuk berlindung dari media massa ?

 

Disekian banyak pertanyaanmu itu,Aku bertanya satu:

Apakah kau akan meminta persetujuan dengan Pak Jokowi ?

Sebagaimana kau meminta persetujuan yang sama dengan Bung Karno.

Bertolak atau berlabuh, entahlah aku tak tahu.